TUGAS
MANUSIA
dan KEBUDAYAAN
“Kebudayaan
Sunda”
OLEH:
YOVI ERSARIADI 17355/2010
MEFI ELLINI 17357/2010
LENA YUNIANTI 18203/2010
OKTAVIANDI 18202/2010
FAKULTAS
BAHASA dan SENI (FBS)
UNIVERSITAS
NEGERI PADANG
2011
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan atas
segala rahmat dan hidayah Allah SWT, sehingga tugas ini dapat diselesaikan
dengan baik. Tugas ini membahas tentang Kebudayaan Sunda dalam mata kuliah
Manusia dan Kebudayaan.
Penulis mengucapkan terima kasih
kepada pembimbing sekaligus dosen kami dimata kuliah Pengantar Pengkajian
Kesusastraan yakni Bapak Zulfadhli, S.S., M. A. Kemudian, kepada seluruh yang
terkait dalam penulisan tugas ini.
Akhirnya, penulis menyadari bahwa
tugas ini masih terdapat banyak kesalahan, baik dalam penulisan maupun isi,
untuk itu penulis sangat mengharapakan kritik dan saran dari pembaca. Penulis
mengharapkan tugas ini dapat memberikan manfaat.
Padang,
1 Oktober 2011
Penulis
KEBUDAYAAN SUNDA
ISTILAH SUNDA
Istilah Sunda berasal dari
bahasa Sansekerta yakni sund atau suddha yang berarti bersinar, terang, atau
putih. Dalam bahasa Jawa kuno (Kawi) dan bahasa Bali
dikenal juga istilah Sunda dalam pengertian yang sama yakni bersih, suci,
murni, tak bercela/bernoda, air, tumpukan, pangkat, dan waspada.
Menurut R.W. van Bemmelen seperti dikutip Edi S. Ekadjati, istilah Sunda adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menamai dataran bagian barat laut wilayah India Timur, sedangkan dataran bagian tenggara dinamai Sahul. Dataran Sunda dikelilingi oleh sistem Gunung Sunda yang melingkar (Circum-Sunda Mountain System) yang panjangnya sekira 7.000 km. Dataran Sunda itu terdiri atas dua bagian utama, yaitu bagian Utara.yang meliputi Kepulauan Filipina dan pulau-pulau karang sepanjang Lautan Fasifik bagian Barat serta bagian Selatan hingga Lembah Brahmaputra di Assam (India).
Dengan demikian, bagian Selatan dataran Sunda itu dibentuk oleh kawasan mulai Pulau Banda di timur, terus ke arah barat melalui pulau-pulau di kepulauan Sunda Kecil (the lesser Sunda island), Jawa, Sumatra, Kepulauan Andaman, dan Nikobar.
KEBUDAYAAN SUNDAMenurut R.W. van Bemmelen seperti dikutip Edi S. Ekadjati, istilah Sunda adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menamai dataran bagian barat laut wilayah India Timur, sedangkan dataran bagian tenggara dinamai Sahul. Dataran Sunda dikelilingi oleh sistem Gunung Sunda yang melingkar (Circum-Sunda Mountain System) yang panjangnya sekira 7.000 km. Dataran Sunda itu terdiri atas dua bagian utama, yaitu bagian Utara.yang meliputi Kepulauan Filipina dan pulau-pulau karang sepanjang Lautan Fasifik bagian Barat serta bagian Selatan hingga Lembah Brahmaputra di Assam (India).
Dengan demikian, bagian Selatan dataran Sunda itu dibentuk oleh kawasan mulai Pulau Banda di timur, terus ke arah barat melalui pulau-pulau di kepulauan Sunda Kecil (the lesser Sunda island), Jawa, Sumatra, Kepulauan Andaman, dan Nikobar.
Budaya Sunda
dikenal dengan budaya yang sangat menjujung tinggi sopan
santun. Pada umumnya karakter masyarakat
Sunda,
ramah tamah (someah), murah senyum, lemah lembut, dan sangat menghormati
orangtua.
Itulah cermin
budaya dan kultur
masyarakat Sunda. Di dalam bahasa Sunda
diajarkan bagaimana menggunakan bahasa halus untuk orang tua.
Seperti
pada kebudayaan Sunda, kebudayaan Sunda termasuk kebudayaan tertua. Kebudayaan
Sunda yang ideal kemudian sering dikaitkan sebagai kebudayaan raja-raja Sunda. Ada beberapa Watka dalam
budaya Sunda tentang satu jalan menuju keutamaan hidup. Etos dan watak Sunda itu
adalah cageur, bageur, singer dan pinter. Kebudayaan Sunda juga merupakan salah
satu kebudayaan yang menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia yang
dalam perkembangannya perlu dilestarikan. Hampir semua masyarakat Sunda
beragama Islam namun ada beberapa yang bukan beragama Islam. Walaupun berebeda
namun pada dasarnya seluruh kehidupan di tujukan untuk alam semesta.
Kebudayaan
Sunda memiliki ciri khas tertentu yang membedakannya dari kebudayaan-kebudayaan
lain. Secara umum masyarakat Jawa Barat atau Tatar Sunda sering dikenal dengan
masyarakat religius. Kecenderungan ini tampak sebagaimana dalam pameo “silih
asih, silih asah dan silih asuh, saling mengasihi, saling mempertajam diri dan
saling malindungi. Selain itu Sunda juga memiliki sejumlah budaya lain yang
khas seperti kesopanan, rendah hati terhadap sesama, kepada yang lebih tua dan
menyayangi kepada yang lebih kecil. Pada kebudayaan Sunda keseimbangan magis di
pertahankan dengan cara melakukan upacara-upacara adat sedangkan keseimbangan
sosial masyarakat sunda melakukan gotong royong untuk mempertahankannya.
Budaya
Sunda memiliki banyak kesenian, diantaranya adalah kesenian sisingaan, tarian
khas Sunda, wayang golek, permainan anak kecil yang khas, alat musik Sunda yang
bisanya digunakan pada pagelaran kesenian.
Sisingaan
adalah kesenian khas Sunda yang menampilkan 2-4 boneka singa yang diusung oleh
para pemainnya sambil menari sisingaan sering digunakan dalam acara tertentu,
seperti pada acara khitanan.
Wayang golek
adalah boneka kayu yang dimainkan berdasarkan karakter tertentu dalam suatu
cerita perwayangan. Wayang dimainkan oleh seorang dalang yang menguasai
berbagai karakter maupun suara tokoh yang di mainkan. Jaipongan
adalah pengembangan dan akar dari tarian klasik .
Tarian
Ketuk Tilu, sesuai
dengan namanya Tarian ketuk tilu berasal dari nama sebuah instrumen atau alat
musik tradisional yang disebut ketuk sejumlah 3 buah.
Alat
musik khas Sunda yaitu, angklung, rampak kendang,
suling,
kecapi,
gong,
calung.
Angklung
adalah instrumen musik yang terbuat dari bambu, yang unik, enak didengar
angklung juga sudah menjadi salah satu warisan kebudayaan Indonesia.
Rampak
kendang adalah salah satu instrumen musik tradisional yang di mainkan bersamma-sama
instrumen lainnya.
Gambar
Sisingaan Tarian
ketuk Tilu
Tari Jaipong Alat
musik Kendang
Sistem Kekerabatan
Orang Sunda
Penelusuran garis keturunan (sakeseler) dalam
khazanah kesundaan diistilahkan dengan "pancakaki". Kamus
Umum Basa Sunda (1993), mengartikan "pancakaki" dengan dua
pengertian. Pertama, "pancakaki" menunjukkan hubungan
seseorang dalam garis keluarga (perenahna jelema ka jelema deui anu
sakulawarga atawa kaasup baraya keneh). Kita pasti mengenal istilah
kekerabatan seperti indung, bapa, aki, nini, emang, bibi, Euceu, anak, incu,
buyut, alo, suan, kapiadi, kapilanceuk, aki ti gigir, nini ti gigir, dan
sebagainya.
Istilah-istilah di atas merupakan sistem kekerabatan
masyarakat Sunda yang didasarkan pada hubungan seseorang dalam sebuah komunitas
keluarga. Dalam sistem kekerabatan urang Sunda diakui juga garis saudara
(nasab) dari bapak dan ibu seperti bibi, emang, kapiadi, kapilanceuk, nini
ti gigir, aki ti gigir.
Menurut Edi S Ekadjati (Kebudayaan Sunda, 2005) urang
Sunda memperhitungkan dan mengakui kekerabatan bilateral, baik dari garis bapak
maupun ibu. Berbeda dengan sistem kekerabatan orang Minang dan Batak yang
menganut sistem kekerabatan matriarchal dan patriarchal, yaitu
hanya memperhitungkan garis ibu saja dan garis keturunan bapak.
Sistem Perkawinan
Orang Sunda
Perkawinan orang Sunda dipengaruhi oleh
adat yang diteruskan secara turun temurun oleh agama Islam. Karena agama Islam
telah lama dipeluk oleh orang Sunda. Biasanya kedua unsur itu terjalin erat
menjadi adat kebiasaan dan kebudayaan orang Sunda. Perkawinan di tanah Sunda
misalnya dilakukan baik secara adat maupun secara agama Islam. Ketika upacara
akad nikah atau ijab kabul dilakukan, maka tampak sekali bahwa didalam
upacara-upacara yang terpenting ini terdapat unsur agama.
Dalam hubungannya dengan sistem
perkawinan itu, tiap bangsa mempunyai anggapannya masing-masing mengenai umur
yang paling baik untuk dikawinkan. Di beberapa Desa di sekitar Bandung,
diperoleh data bahwa dari 360 responden ada 287 yang menyatakan bahwa umur yang
baik untuk menikah yaitu antara 16 sampai 20. Sistem pemilihan jodoh di Jawa
Barat tidak terikat suatu sistem tertentu. Hanya yang pasti perkawinan didalam
keluarga batih dilarang.
Sebelum menentukan seseorang itu untuk
diambil menjadi calon menantu, terlebih dahulu diadakan penyelidikan dari kedua
belah pihak, penyelidikan itu biasanya dilakukan secara serapih mungkin dan
secara tertutup. Diusahakan agar dapat menantu yang baik.
Menantu yang baik disini tentunya
mempunyai arti yang relatif. Untuk mengetahui mana yang baik, maka kita perlu
mengetahui sistem-sistem nilai budaya yang berlaku di daerah itu. Di daerah
pedesaan yang kuat kehidupan agamanya, maka faktor orientasi agama memainkan
peranan yang penting. Pada umumnya di daerah pedalaman telah dikenal pula
moralitas perkawinan yang dapat dilihat dari bahasa dan pepatah dalam bahasa
itu. Di Pasundan dikatakan misalnya: “Lamun nyiar jodo kudu kakupuna”
artinya kalau mencari jodoh harus kepada orang yang sesuai dalam segalanya,
baik dari segi rupa, kekayaan, maupun keturunannya. Atau “Lamun nyiar jodo
kudu kanu sawaja sabeusi”, artinya mencari jodoh itu harus mencari yang
sesuai dan cocok dalam segala hal.
Adapun caranya mencari menantu itu,
dilakukan oleh pihak laki-laki maupun perempuan. Caranya mula-mula tidak
serius, sambil bergurau antara orang tua kedua belah pihak, tempat
pembicaraannya juga tidak ditetapkan, dimana saja.
Apabila anak gadis itu belum
bertunangan dan juga orang tuanya setuju atas yang diusulkan oleh pemuda
tersebut, maka perembukan itu dinamakan “NEUNDEUN OMONG”, artinya
menaruh perkataan. Antara neundeun omong sampai “NYEUREUHAN” atau
melamar, terjadilah saling amat-mengamati atau sidik-menyelidiki secara
baik-baik. Sekiranya terdapat kesepakatan antara kedua belah pihak maka dilakukan
Pinangan.
Pinangan inipun dilakukan dengan tata
cara yang khusus. Setelah dilakukan pelamaran, maka diadakan persiapan untuk
melakukan acara pernikahan. Setelah tersedia persiapan itu, maka orang tua
laki-laki mengirimkan kabar kepada orang tua gadis hari dan jam yang sudah
ditetapkan untuk diadakan “SESERAHAN”. Anak laki-laki yang akan menjadi
mempelai itu. Perihal waktu perkawinan sudah mereka bicarakan. Biasanya
penyerahan anak laki-laki itu dikerjakan tiga hari sebelum diadakan upacara
pernikahan. Setelah anak laki-laki diserahkan pada prinsipnya segala sesuatu
telah menjadi tanggungjawab orang tua perempuan.
Pada upacara pernikahannya sendiri,
dilakukan secara sederhana secara agama. Tetapi upacara “NYAWER dan BUKA
PINTU” tetap ada dan merupakan yang paling menarik. Semua orang gembira dan
mengikuti dengan penuh perhatian dan mengikuti dengan penuh perhatian dan
mengikuti dialog yang dilakukan dengan bahasa puisi dan lagu.
Sistem Mata Pencaharian
Daerah Jawa Barat yang beriklim antara tropis dan
sub-tropis merupakan daerah agraris yang subur. Dahulu daerah ini, terutama
daerah pedalaman, memiliki banyak hutan lebat serta daerah rawa. Keadaan ini
memungkinkan timbulnya cara-cara bercocok tanam yang dilakukan oleh masyarakat
yang tinggal di daerah pedalaman berupa pertanian di ladang yang disebut ngahuma
dan pola pertanian menetap, yaitu bersawah. Hingga sekarang pola pertanian
sawah merupakan mata pencaharian utama bagi masyarakat Jawa Barat, khususnya di
daerah pedesaan.
Mata
pencaharian pokok masyarakat Sunda adalah:
1. Bidang perkebunan, seperti tumbuhan teh, kelapa sawit, karet, dan kina.
2. Bidang pertanian, seperti padi, palawija, dan sayur-sayuran.
3. Bidang perikanan, seperti tambak udang, dan perikanan ikan payau.
Selain bertani, berkebun dan mengelola perikanan, ada juga yang bermata pencaharian sebagai pedagang, pengrajin, dan peternak.
1. Bidang perkebunan, seperti tumbuhan teh, kelapa sawit, karet, dan kina.
2. Bidang pertanian, seperti padi, palawija, dan sayur-sayuran.
3. Bidang perikanan, seperti tambak udang, dan perikanan ikan payau.
Selain bertani, berkebun dan mengelola perikanan, ada juga yang bermata pencaharian sebagai pedagang, pengrajin, dan peternak.
Suku Sunda umumnya hidup bercocok
tanam. Kebanyakan tidak suka merantau atauhidup berpisah dengan orang-orang
sekerabatnya. Kebutuhan orang Sunda terutama adalah hal meningkatkan taraf
hidup. Menurut data dari Bappenas (kliping Desember 1993) di Jawa Barat
terdapat 75% desa miskin. Secara umum kemiskinan di Jawa Barat disebabkan oleh
kelangkaan sumber daya manusia. Maka yang dibutuhkan adalah pengembangan sumber
daya manusia yang berupa pendidikan, pembinaan, dll.
Di Jawa Barat pola pertanian ngahuma masih dapat
kita lihat di daerah Banten dan di beberapa daerah Jawa Barat bagian selatan.
Ciri-ciri yang masih jelas dari pola kehidupan ngahuma dapat kita
saksikan pada masyarakat Baduy di Banten Selatan. Bentuk rumah yang sederhana
terbuat dari bambu dan kayu, beratap ijuk atau alang-alang dan hanya diperkuat
dengan ikatan tali bambu atau ijuk, menunjukkan bahwa pahuma (peladang)
sering berpindah-pindah mengikuti pindahnya huma (ladang) mereka.
Sistem
Kepercayaan Orang Sunda
Suku Sunda tidak seperti kebanyakan
suku yang lain, dimana suku Sunda tidak mempunyai mitos tentang penciptaan atau
catatan mitos-mitos lain yang menjelaskan asal mula suku ini. Tidak seorang pun
tahu dari mana mereka datang, juga bagaimana mereka menetap di Jawa Barat.
Agaknya pada abad-abad pertama Masehi, sekelompok kecil suku Sunda menjelajahi
hutan-hutan pegunungan dan melakukan budaya tebas bakar untuk membuka hutan.
Semua mitos paling awal mengatakan bahwa orang Sunda lebih sebagai
pekerja-pekerja di ladang daripada petani padi.
Kepercayaan mereka membentuk fondasi
dari apa yang kini disebut sebagai agama asli orang Sunda. Meskipun tidak mungkin
untuk mengetahui secara pasti seperti apa kepercayaan tersebut, tetapi petunjuk
yang terbaik ditemukan dalam puisi-puisi epik kuno (Wawacan) dan di antara suku
Badui yang terpencil. Suku Badui menyebut agama mereka sebagai Sunda Wiwitan
[orang Sunda yang paling mula-mula]. Bukan hanya suku Badui yang hampir bebas
sama sekali dari elemen- elemen Islam (kecuali mereka yang ditentukan ada lebih
dari 20 tahun yang lalu), tetapi suku Sunda juga memperlihatkan karakteristik
Hindu yang sedikit sekali. Beberapa kata dalam bahasa Sansekerta dan Hindu yang
berhubungan dengan mitos masih tetap ada. Dalam monografnya, Robert Wessing
mengutip beberapa sumber yang menunjukkan suku Sunda secara umum, "The
Indian belief system did not totally displace the indigenous beliefs, even at
the court centers."[1] Berdasarkan pada sistem tabu, agama suku Badui
bersifat animistik. Mereka percaya bahwa roh-roh yang menghuni batu-batu,
pepohonan, sungai dan objek tidak bernyawa lainnya. Roh-roh tersebut melakukan
hal-hal yang baik maupun jahat, tergantung pada ketaatan seseorang kepada
sistem tabu tersebut. Ribuan kepercayaan tabu digunakan dalam setiap aspek
kehidupan sehari-hari.
Kini
Hampir semua
orang Sunda beragama Islam. Hanya sebagian kecil yang tidak beragama Islam,
diantaranya orang-orang Baduy yang tinggal di Banten tetapi juga ada yang
beragama Katolik, Kristen, Hindu, Budha. Selatan. Praktek-praktek sinkretisme
dan mistik masih dilakukan. Pada dasarnya seluruh kehidupan orang Sunda
ditujukan untuk memelihara keseimbangan alam semesta.Keseimbangan magis
dipertahankan dengan upacara-upacara adat, sedangkan keseimbangan sosial
dipertahankan dengan kegiatan saling memberi (gotong royong). Hal yang menarik
dalam kepercayaan Sunda, adalah lakon pantun Lutung Kasarung, salah satu tokoh
budaya mereka, yang percaya adanya Allah yang Tunggal (Guriang Tunggal) yang
menitiskan sebagian kecil diriNya ke dalam dunia untuk memelihara kehidupan
manusia (titisan Allah ini disebut Dewata). Ini mungkin bisa menjadi
jembatan untuk mengkomunikasikan Kabar Baik kepada mereka.
Bahasa
dan Tulisan Sunda
Dalam bahasa Sunda dikenal dengan
dua tingkatan yaitu bahasa kasar dan bahasa halus. Bahasa Sunda merupakan dari
cabang Melayu-Polinesia dalam rumpun bahasa
Austronesia.
Bahasa ini dituturkan oleh sekitar 27 juta orang dan merupakan bahasa dengan
penutur terbanyak kedua di Indonesia
setelah Bahasa Jawa. Bahasa Sunda dituturkan di
sebagian besar provinsi Jawa Barat (kecuali kawasan pantura yang
merupakan daerah tujuan urbanisasi di mana penutur bahasa ini semakin
berkurang), melebar hingga batas Kali Pemali (Cipamali) di wilayah Brebes, Jawa Tengah,
dan di kawasan selatan provinsi Banten. Bahasa Sunda terutama
dipertuturkan di sebelah barat pulau Jawa, di daerah yang dijuluki Tatar Sunda. Namun demikian, bahasa Sunda juga
dipertuturkan di bagian barat Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Brebes dan Cilacap.
Banyak nama-nama tempat di Cilacap yang masih merupakan nama Sunda dan bukan
nama Jawa seperti Kecamatan Dayeuhluhur, Cimanggu,
dan sebagainya. Ironisnya, nama Cilacap banyak yang menentang bahwa ini
merupakan nama Sunda. Mereka berpendapat bahwa nama ini merupakan nama Jawa
yang "disundakan", sebab pada abad ke-19
nama ini seringkali ditulis sebagai "Clacap".
Bahasa Sunda memiliki catatan
tulisan sejak milenium kedua, dan merupakan bahasa Austronesia
ketiga yang memiliki catatan tulisan tertua, setelah bahasa Melayu
dan bahasa Jawa. Tulisan pada masa awal menggunakan
aksara Pallawa. Pada periode Pajajaran,
aksara yang digunakan adalah aksara Sunda
Kaganga. Setelah masuknya pengaruh Kesultanan Mataram pada abad ke-16, aksara hanacaraka
(cacarakan) diperkenalkan dan terus dipakai dan diajarkan di sekolah-sekolah
sampai abad ke-20. Tulisan dengan huruf latin diperkenalkan pada awal abad
ke-20 dan sekarang mendominasi sastra tulisan berbahasa Sunda.
Saat ini Bahasa Sunda ditulis dengan Abjad Latin
dan sangat fonetis.
Ada lima
suara vokal murni (a, é, i, o, u), dua vokal netral, (e (pepet) dan eu (ɤ), dan tidak ada diftong.
Fonem konsonannya ditulis dengan huruf p, b, t, d, k, g, c, j, h, ng, ny, m, n,
s, w, l, r, dan y.
Konsonan lain yang aslinya muncul dari bahasa Indonesia
diubah menjadi konsonan utama: f -> p, v -> p, sy -> s, sh -> s, z
-> j, and kh -> h.
Desa Di Jawa Barat
Menurut Sutardjo
Kartodikusuma desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal
suatu masyarakat pemerintahan tersendiri. Sedangkan menurut Bintaro,
desa merupakan perwujudan atau kesatuan goegrafi ,sosial, ekonomi, politik dan
kultur yang terdapat ditempat itu (suatu daerah), dalam hubungan dan
pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain. Di desa sistem kekerabatannya
masih sangatlah kental, maksudnya bahwa setiap orang memeiliki rasa saling
peduli yang relatif lebih tinggi dibandingkan masyarakat perkotaan. Begitu pula
yang terjadi di daerah pedesaan suku Sunda di Jawa Barat yang terkenal dengan
prinsip hidup “makan tidak makan yang penting kumpul”. Prinsip tersebut
seoalah-olah menggambarkan bahwa masyarakat Sunda sangat menyayangi satu sama
lain sehingga tidak rela bila terpisah jauh. Sistem adat istiadat serta
kebiasaan tradisional masih sering dilakukan oleh masyarakat pedesaan suku
sunda di daerah Jawa Barat. Kebiasaan tradisional ini pun sangat berpengaruh
pada sistem komunikasi yang terdapat dalam masyarakat pedesaan suku sunda.
Desa di Jawa Barat dapat
dilihat sebagai suatu kesatuan administratif terkecil, yang menempati tingkat
yang paling bawah dalam susunan pemerintahan nasional. Sebagai suatu kesatuan
administratif suatu desa mempunyai suatu pemerintahan desa, yang mengurus rumah
tangga desa. Di seluruh desa di Jawa Barat sistem pemerintahan desa itu pada
garis besarnya sama, hanya dalam hal sebutan bagi pejabat-pejabatnya terdapat
perbedaan. Desa Bojongloa misalnya, sebuah desa yang terletak di lereng gunung
Tampomas di sebelah barat Sumedang dikepalai oleh seorang kuwu yang dipilih oleh rakyatnya.
Di pedesaan wilayah jawa
Barat pengaruh pendapat seorang pemimpin atau orang yang dituakan atau orang
yang dianggap penting dan dihormati warga sangatlah besar. Dapat kita ambil
contoh di desa Kadudampit, Kabupaten Sukabumi. Di desa tersebut, pendapat
seorang pemimpin seperti kepala desa maupun camat adalah sesuatu yang dianggap
benar dan bermanfaat sehingga sebagian besar masyarakat mematuhi apa yang
dikatakan oleh pemimpin tersebut.
Rumah
Adat Sunda
Setiap rumah adat tentu memiliki ciri
dan keunikannya masing-masing. Secara tradisional rumah orang Sunda berbentuk
panggung dengan ketinggian 0,5 m - 0,8 m atau 1 meter di atas permukaan tanah.
Pada rumah-rumah yang sudah tua usianya, tinggi kolong ada yang mencapai 1,8
meter. Kolong ini sendiri umumnya digunakan untuk tempat mengikat
binatang-binatang peliharaan seperti sapi, kuda, atau untuk menyimpan alat-alat
pertanian seperti cangkul, bajak, garu dan sebagainya. Untuk menaiki rumah
disediakan tangga yang disebut Golodog terbuat dari kayu atau bambu, biasanya
tidak lebih dari tiga anak tangga. Golodog berfungsi pula untuk membersihkan
kaki sebelum naik ke dalam rumah.
Rumah adat Sunda sendiri sebenarnya
memiliki nama yang berbeda-beda bergantung pada bentuk atap dan pintu rumahnya.
Secara tradisional ada atap yang bernama suhunan Jolopong, Tagong Anjing, Badak
Heuay, Perahu Kemureb, Jubleg Nangkub, dan Buka Pongpok. Dari
kesemuanya itu, Jolopong adalah bentuk yang paling sederhana dan banyak
dijumpai di daerah-daerah cagar budaya atau di desa-desa.
Jolopong -atas dasar popularitasnya
itu- penelusuran saya pun lalu semakin mengarah pada bentukan rumah adat yang
satu ini. Bentuk Jolopong sendiri memiliki dua bidang atap. Kedua
bidang atap ini dipisahkan oleh jalur suhunan di tengah bangunan rumah. Batang
suhunan sama panjangnya dan sejajar dengan kedua sisi bawah bidang atap yang
sebelah menyebelah, sedangkan lainnya lebih pendek dibanding dengan suhunan dan
memotong tegak lurus di kedua ujung suhunan itu.
Seni
Musik dan Suara
Selain seni tari, tanah Sunda juga
terkenal dengan seni suaranya. Dalam memainkan Degung biasanya ada seorang
penyanyi yang membawakan lagu-lagu Sunda dengan nada dan alunan yang khas.
Penyanyi ini biasanya seorang wanita yang dinamakan Sinden. Tidak sembarangan
orang dapat menyanyikan lagu yang dibawakan Sinden karena nada dan ritme-nya cukup sulit untuk
ditiru dan dipelajari.Dibawah ini salah salah satu musik/lagu daerah Sunda :
- Bubuy Bulan
- Es Lilin
- Manuk Dadali
- Tokecang
- Warung Pojok
Senjata
Tradisional Sunda
Kujang diakui sebagai senjata tradisional masyarakat Masyarakat Jawa
Barat (Sunda) dan Kujang dikenal sebagai senjata yang memiliki nilai sakral
serta mempunyai kekuatan magis. Beberapa peneliti menyatakan bahwa istilah
Kujang berasal dari kata Kudihyang dengan akar kata Kudi dan Hyang.
Kudi diambil dari bahasa Sunda Kuno yang artinya senjata yang mempunyai
kekuatan gaib sakti, sebagai jimat, sebagai penolak bala, misalnya untuk
menghalau musuh atau menghindari bahaya/penyakit. Senjata ini juga disimpan
sebagai pusaka, yang digunakan untuk melindungi rumah dari bahaya dengan
meletakkannya di dalam sebuah peti atau tempat tertentu di dalam rumah atau
dengan meletakkannya di atas tempat tidur (Hazeu, 1904 : 405-406)
Sedangkan Hyang dapat disejajarkan dengan pengertian Dewa dalam beberapa
mitologi, namun bagi masyarakat Sunda Hyang mempunyai arti dan kedudukan di
atas Dewa, hal ini tercermin di dalam ajaran “Dasa Prebakti” yang tercermin
dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian disebutkan “Dewa bakti di
Hyang”.
Secara umum, Kujang mempunyai pengertian sebagai pusaka yang mempunyai
kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa (=Hyang), dan sebagai sebuah
senjata, sejak dahulu hingga saat ini Kujang menempati satu posisi yang sangat
khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda). Sebagai lambang atau simbol
dengan niali-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, Kujang dipakai
sebagai salah satu estetika dalam beberapa lambang organisasi serta
pemerintahan. Disamping itu, Kujang pun dipakai pula sebagai sebuah nama dari
berbagai organisasi, kesatuan dan tentunya dipakai pula oleh Pemda Propinsi
Jawa Barat.
Di masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat
Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera
dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi
lisan yang berkembang di beberapa daerah diantaranya di daerah Rancah, Ciamis.
Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih
dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer
Pangawinan di Sukabumi.
Dengan perkembangan kemajuan, teknologi, budaya, sosial dan ekonomi
masyarakat Sunda, Kujang pun mengalami perkembangan dan pergeseran bentuk,
fungsi dan makna. Dari sebuah peralatan pertanian, kujang berkembang menjadi
sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan cenderung menjadi senjata
yang bernilai simbolik dan sakral. Wujud baru kujang tersebut seperti yang kita
kenal saat ini diperkirakan lahir antara abad 9 sampai abad 12.
Bagian-bagian Kujang
Karakteristik sebuah kujang memiliki sisi tajaman dan nama bagian,
antara lain : papatuk/congo (ujung kujang yang menyerupai panah),
eluk/silih (lekukan pada bagian punggung), tadah (lengkungan menonjol pada
bagian perut) dan mata (lubang kecil yang ditutupi logam emas dan perak).
Selain bentuk karakteristik bahan kujang sangat unik cenderung tipis, bahannya
bersifat kering, berpori dan banyak mengandung unsur logam alam.
Dalam Pantun Bogor
sebagaimana dituturkan oleh Anis Djatisunda (996-2000), kujang memiliki beragam
fungsi dan bentuk. Berdasarkan fungsi, kujang terbagi empat antara lain :
Kujang Pusaka (lambang keagungan dan pelindungan keselamatan), Kujang Pakarang
(untuk berperang), Kujang Pangarak (sebagai alat upacara) dan Kujang Pamangkas
(sebagai alat berladang). Sedangkan berdasarkan bentuk bilah ada yang disebut
Kujang Jago (menyerupai bentuk ayam jantan), Kujang Ciung (menyerupai burung
ciung), Kujang Kuntul (menyerupai burung kuntul/bango), Kujang Badak
(menyerupai badak), Kujang Naga (menyerupai binatang mitologi naga) dan Kujang
Bangkong (menyerupai katak). Disamping itu terdapat pula tipologi bilah kujang
berbentuk wayang kulit dengan tokoh wanita sebagai simbol kesuburan.

Daftar Pustaka
Koentjaraningrat,
dkk. 2002. Manusia dan Kebudayaan di
Indonesia. Jakarta: Djambatan. http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sunda
http://kultivar.blogspot.com/2008/02/sistem-kekerabatan-dan-perkawinan.html