Cari Blog Ini

Memuat...

Kamis, 27 September 2012

makalah zaman logam


MAKALAH
SEJARAH KEBUDAYAAN INDONESIA
“ZAMAN LOGAM”



OLEH:
LENA YUNIANTI 18203
SHINTA WIRA SASMI






FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2011


KATA PENGANTAR
            Puji syukur penulis ucapkan atas segala rahmat dan hidayah Allah SWT, sehingga tugas ini dapat diselesaikan dengan baik. Makalah ini membahas tentang zaman logam.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pembimbing sekaligus dosen kami dimata kuliah Sejarah Kebudayaan Indonesia yakni,  Ibu Zubaidahs Kemudian, kepada seluruh pihak  yang terkait dalam penulisan tugas ini.
            Akhirnya, penulis menyadari bahwa tugas ini masih terdapat banyak kesalahan, baik dalam penulisan maupun isi, untuk itu penulis sangat mengharapakan kritik dan saran dari pembaca. Penulis mengharapkan tugas ini dapat memberikan manfaat.

Padang, 24 Oktober 2011

Penulis











Zaman Logam
A.   ZAMAN LOGAM

Pada zaman prasejarah,  zaman dibedakan berdasarkan alat-alatnya, yaitu, zaman batu dan logam. Zaman batu yang termuda adalah zaman neolitikum dan zaman selanjutnya adalah zaman logam. Dengan dimulainya zaman logam, bukan berati berakhir zaman batu, karena pada zaman logam masih terdapat alat-alat dan perkakas batu. Nama zaman logam hanya untuk menyatakan bahwa saat itu logam telah dikenal dan dipergunakan  orang untuk membuat alat-alat yang diperlukan.
Logam tidak dapat dipukul-pukul atau dipecah seperti batu guna mendapat alat yang dikehendaki. Logam harus dilebur dahulu dari bijinya untuk dapat dipergunakan. Leburan logam itu yang kemudian dicetak. Tehnik pembuatan benda-benda dari logam itu dinamakan <<a cire perdue>>, dan caranya adalah: benda yang dikehendaki dan dibuat terlebih dahulu dari lilin, lengkap dengan bagian-bagiannya. Kemudian model dari dari lilin itu ditutup dengan tanah. Dengan jalan dipanaskan maka selubung tanah ini menjadi keras, sedangkan lilinnya menjadi cair dan mengalir ke luar lubang yang telah disediakan di dalam selubung itu. Jika telah habis lilinnya, dituangkan logam cair ke dalam geronggang tempat lilin tadi. Dengan demikian logam itu menggantikan model lilin tadi. Setelah dingin semuanya, selubung tanahnya dipecah, dan keluarlah benda yang dikehendaki itu, bukan dari lilin melainkan logam.
Dari zaman-zaman prasejara, dapat ketahui bahwa zaman logam dibagi lagi atas zaman tembaga, perunggu dan besi. Asia Tenggara tidak mengenal zaman tembaga. Setelah neolitikum langsung ke zaman perunggu dan  berlanjut ke zaman besi. Di Indonesia zaman logam pun sulit untuk dibago ke dalam zaman perunggu atau besi. Bisa dikatakan bahwa zama logam di Indonesia hanya zama perunggu, karena alat-alat perkakas besi tidak banyak bedanya dengan alat-alat zaman perunggu.



1.    Zaman Perunggu

Zaman Perunggu adalah masalah dalam perkembangan sebuah peradaban ketika kerajinan logam yang paling maju telah mengembangkan teknik melebur tembaga dari hasil bumi dan membuat perunggu. Zaman Perunggu adalah bagian dari sistem tiga zaman untuk masyarakat prasejarah dan terjadi setelah Zaman Neolitikum di beberapa wilayan di dunia. Di sebagian besar Afrika subsahara, Zaman Neolitikum langsung diikuti Zaman Besi.
Zaman perunggu berlangsung kurang lebih 500 tahun SM. Teknik pembuatannya adalah a cire perdue (cetak hilang, hanya sesekali untuk mencetak). Contoh di Bali ditemukan cetak nekara dari batu. Yang dicetak dengan cetakan batu adalah nekara lilin, sedangkan nekara perunggunya dicetak dengan a cire perdue. Di jaman sekarang orang membuat cetakan yang dapat dipakai berkali-kali disebut bivalve (dua setangkup). Perunggu merupakan campuran timah putih dan tembaga.
Pada zaman perunggu atau yang disebut juga dengan kebudayaan Dongson-Tonkin Cina (pusat kebudayaan)ini manusia purba sudah dapat mencampur tembaga dengan timah dengan perbandingan 3 : 10 sehingga diperoleh logam yang lebih keras.
                              
Alat-alat perunggu pada zaman ini antara lain :
a. Kapak Corong (Kapak perunggu, termasuk golongan alat perkakas) ditemukan di Sumatera Selatan, Jawa-Bali, Sulawesi, Kepulauan Selayar, Irian
b. Nekara Perunggu (Moko) sejenis dandang yang digunakan sebagai maskawin. Ditemukan di Sumatera, Jawa-Bali, Sumbawa, Roti, Selayar, Leti
c. Benjana Perunggu ditemukan di Madura dan Sumatera.
d. Arca Perunggu ditemukan di Bang-kinang (Riau), Lumajang (Jawa Timur) dan Bogor (Jawa Barat)
                                         





A.   Kapak Corong
Pada zaman kebudayaan di Eropa, menghasilkan kapak-kapak tembaga yang masih menyerupai kapak batu. Bentuk dan wujud dari kapak tembaga itu tidak berbeda dari dari kapak batu, bahkan sering terdapat tanda bahwa sengaja tembaga itu menyerupai bentuk batu.
Di Indonesia, kapak logam yang ditemukan adalah kapak perunggu yang sudah menyerupai bentuk tersendiri. Kapak ini biasanya dinamakan”kapak sepatu”, maksudnya ialah kapak yang bagian atasnya berbentuk corong yang sembirnya belah, sedangkan ke dalam corong itulah dimasukkan tangkai kayunya yang menyiku kepada bidang kapak. Jadi, seolah-olah kapak disamakan dengan sepatu dan tangkainya dengan kaki orang. Lebih tepat kapak ini dinamakan kapak corong.
Kapak corong banyak ditemukan di Sumatera Selatan, Jawa, Bali, Sulawesi Tengah dan Selatan, pulau Selayar dan Irian dekat danau Sentani. Berbagai jenis ditemukan, ada yang kecil bersahaja, ada yang besar dan memakai hiasan; ada yang pendek lebar, ada yang bulat, dan ada pula yang panjang satu sisi. Yang panjang satu sisi disebut Cendrasa. Tidak semua kapak itu dipergunakan sebagai kapak. Misalnya, yang kecil adalah tugal, sedangkan yang sangat indah dan juga cendrasa tidak dapat digunakan sebagai perkakas dan hanya dipakai sebagai tanda kebesaran dan alat upacara saja.
Cara pembuatan kapak-kapak corong itu menunjukkan adanya tehnik a cire perdue. Di dekat Bandung ditemukan cetakan dari tanah bakar untuk menuang kapak corong. Berdasarkan penyelidikan, menyatakan bahwa yang dicetak bukan logamnya, melainkan kapak yang dibuat dari lilin, ialah kapak yang menjadi kodel dari kapak loamnya. Cetakan-cetakan itu membutikan bahwa kapak-kapak perunggu bukan barang luar negeri saja, melainkan negeri Indonesia pun mengenalnya.

B.   Nekara
Nekara adalah semacam berumbung dari perunggu yang berpinggang di bagian tengahnya dan sisi atasnya tertutup. Nekara yang ditemukan di Indonesia hanya beberapa yang utuh. Bahkan ada yang berupa pecahan-pecahan saja. Nekara itu ditemukan di Sumatera, Jawa, Bali, pulau Sangean dekat Sumbawa, Roti, Leti, Selayar dan di Kepulauan Kei. Di Alor banyak pula tedapat nekara, tetapi lebih kecil dan ramping daripada yang ditemukan di lain-lain tempat. Nekara yang demikian itu disebut moko. Dari hias-hiasannya dapat diketahui bahwa moko itu tidak semunya berasal dari zaman perunggu. Ada diantaranya yang berasal darizaman majapahit, bahkan ada yang dibuat dari zaman mutakhir abad 19, dengan memakai hiasan lencana Inggris. Sampai kini moko sangat dihargai penduduk dan hanya disimpan saja sebagai pusaka dan ada dipergunakan sebagai maskawin.
Di Bali terdapat nekara yang besar sekali. Sampai kini yang terbesar dan masih utuh tingginya 1,86 meter dan garis tengahnya 1, 60 meter. Nekara itu dianggap sangat suci dan dipuja penduduk. Tidak hanya di Bali, di tempat lain nekara pun dianggap barang suci.  Penyelidikan menunjukan bahwa nekara ini memang hanya dipergunakan waktu upacara-upacara saja.
Hiasan-hiasan itu sangat luar biasa pentingnya untuk sejarah kebudayaan, oleh karena dari berbagai lukisan itu, kita dapat gambaran tentang kehidupan dan kebudayaan yang ada pada saat itu. Dari hiasan-hiasan itu nampak dengan nyata, bahwa kebudayaan perunggu Indonesia tidak berdiri sendiri, melainkan hanya merupakan bagian dari lingkungan kebudayaan yang lebih luas yang meliputi seluruh Asia Tenggara.
Pada nekara dari Sangean ada ganbar orang menunggang kuda beserta dengan pengiringnya, keduanya memakai pakaian Tatar. Gambar-gambar orang Tatar  itu memberi petunjuk akan adanya hubungan dengan daerah Tiongkok. Pengaruh dari zaman itu masih nyata pada seni hias suku bangsa Dayak dan Ngada(Flores).
Nekara dari Sangean dan kepulauan Kei dihiasi gambar-gambar gajah, merak dan harimau, semuanya bukan bintang dari bagian timur. Maka dapat disimpulkan bahwa nekara-nekara itu dari lain tempat asalnya, ialah bagian dari barat Indonesia dan benua Asia. Jelas bahwa persebaran nekara-nekara di Indonesia dari barat ke timur jalannya.
Dapat dikatakan bahwa tidak semua nekara berasal dari luar Indonesia. Ada pula buatan dalam negeri.  Di desa Manuaba(Bali) ditemukan sebagian dari cetakan batu untuk membuat nekara, kini disimpan dan dipuja di sebuah pura di desa tersebut. Batu cetakan itu diukir oleh hiasan-hiasan yang biasa terdapat pada nekara, terutama sebagian dari hiasan-hiasan nekara pajeng. Adanya batu cetakan nekara itu memberi kesan bahwa, nekara itu pembuatannya dengan cara menuangkan cairan perunggu ke dalam cetakan tadi. Akan tetapi banyak ahli berpendapat bahwa yang dicetak dengan cetakan batu itu hanyalah nekara lilinnya saja, sedangkan nekara perunggu dibuat dengan cara a cire perdue.

C.   Benda-benda lainnya
Selain kapak corong dan nekara, banyak benda-benda lain yang didapatkan dari zaman perunggu, sebagian besar berupa perhiasan seperi: gelang, binggel (gelang kaki), anting-anting, kalung dan cincin. Ada cincin yang sangat kecil. Yang tidak dapat dimasukkan jari anak-anak, ini dapat digunakan sebagai alat penukaran uang.
Seni menuang patung juga sudah ada. Dengan adanya beberapa buah patung, di antaranya arca-arca orang yang sikapnya aneh dan satu arca lagi berupa kerbau. Ada juga beberapa patung kecil kepala binatang dengan badan yang serupa pembuluh; pada bagian atas badannya ditempel semacam cincin, sehingga benda itu dapat digantung, ini dapat digantung sebagai liontin(perhiasan yang menggantung pada kalung).
Dari daerah tepi danau Kerinci dan dari pulau madura ditemukan bejana perunggu yang bentuknya seperti periuk tetapi langsing dan gepeng. Kueduanya mempunyai hiasan ukiran yang serupa dan sangat indah, berupa gambar-gambar geometri dan pilin-pilin yang mirip huruf j. Di samping itu pada bejana dari Madura nampak pula gambar-gambar merak dan rusa dalam kotak-kotak segitiga.
Selain benda-benda perunggu ada lagi benda yang bukan dari perunggu tetapi ada pada zaman perunggu asalnya, yaitu manik-manik dari kaca. Terdapat pada kuburan-kuburan, jumlahnya sangat besar, sehingga memberi corak istimewa pada zaman perunggu itu. Manik itu sebagai nekara kecil dan mata uang, dibawa kepada orang yang telah meninggal sebagai bekal ke akhirat. Dapat dikatakan bahwa pada zaman perunggu, orang telah pandai membuat dan menuang kaca. Hanya tehniknya saja yang masih sederhana, karena hasilnya yang kebanyakan agak kasar dan kadang-kadang masih bercampur pasir(pasir adalah bahan membuat kaca).
Manik-manik itu ada yang besar dan ada yang kecil. Bentuknya pun bermacam-macam, begitu pula warnanya:kuning, merah, biru, hijau, dan putih. Banyak pula yang berwarna banyak, hasil pencampuran berbagai lapis kaca dengan warna yang berlainan. Manik-manik itu dibuat dan dipakai sampai zaman sejarah. Sampai kini banyak orang dan suku bangsa di Indonesia yang sangat menyukai dan menghargai barang itu, sehingga menjadi barang perdagangan, misalnya di Kalimantan, Timor dan Irian.


2.    Zaman Besi

Dalam arkeologi, Zaman Besi adalah suatu tahap perkembangan budaya manusia di mana penggunaan besi untuk pembuatan alat dan senjata sangat dominan. Penggunaan bahan baru ini, di dalam suatu masyarakat sering kali mencakup perubahan praktik pertanian, kepercayaan agama, dan gaya seni, walaupun hal ini tidak selalu terjadi.
Zaman Besi adalah periode utama terakhir dalam sistem tiga zaman untuk mengklasifikasi masyarakat prasejarah, yang didahului oleh Zaman Perunggu. Waktu berlangsung dan konteks zaman ini berbeda, tergantung pada negara atau wilayah geografis. Secara klasik, Zaman Besi dianggap dimulai pada Zaman Kegelapan Yunani pada abad ke-12 SM dan Timur Tengah Kuno, abad ke-11 SM di India, dan antara abad ke-8 SM (Eropa Tengah) dan abad ke-6 SM (Eropa Utara) di Eropa. Zaman Besi dianggap berakhir dengan kebangkitan kebudayaan Hellenisme dan Kekaisaran Romawi, atau Zaman Pertengahan Awal untuk kasus Eropa Utara.
Zaman Besi berhubungan dengan suatu tahap di mana produksi besi adalah salah satu bentuk paling rumit dari kerajinan logam. Kekerasan besi, titik lebur yang tinggi, dan sumber bijih besi yang melimpah, membuat besi lebih dipilih dan murah dari pada perunggu, yang memengaruhi dipilihnya besi sebagai logam yang paling umum digunakan. Karena kerajinan besi diperkenalkan secara langsung ke Amerika dan Australasia oleh kolonisasi Eropa, daerah-daerah tersebut tidak pernah mengalami Zaman Besi.
Pada zaman ini orang sudah dapat melebur besi dari bijinya untuk dituang menjadi alat-alat yang diperlukan. Teknik peleburan besi lebih sulit dari teknik peleburan tembaga maupun perunggu sebab melebur besi membutuhkan panas yang sangat tinggi, yaitu ±3500 °C.
Pada masa ini manusia telah dapat melebur besi untuk dituang menjadi alat-alat yang dibutuhkan, pada masa ini di Indonesia tidak banyak ditemukan alat-alat yang terbuat dari besi.
Alat-alat yang ditemukan adalah :
·    Mata kapak, yang dikaitkan pada tangkai dari kayu, berfungsi untuk membelah kayu
·    Mata Sabit, digunakan untuk menyabit tumbuh-tumbuhan
·    Mata pisau
·    Mata pedang
·    Cangkul, dll
Jenis-jenis benda tersebut banyak ditemukan di Gunung Kidul(Yogyakarta), Bogor, Besuki dan Punung (Jawa Timur)

3.    Zaman Tembaga
Orang menggunakan tembaga sebagai alat kebudayaan. Alat kebudayaan ini hanya dikenal di beberapa bagian dunia saja. Di Asia Tenggara (termasuk Indonesia) tidak dikenal istilah zaman tembaga.

4.    Kebudayaan Dongson

Kebudayaan Đông sơn adalah kebudayaan zaman perunggu yang berkembang di lembah sông hồng,vietnam. Kebudayaan ini juga berkembang di asia tenggara, termasuk di nusantara dari sekitar 1000 sm sampai 1 sm. Kebudayaan dongson mulai berkembang di indochina pada masa peralihan dari periode mesolitik dan neolitik yang kemudian periode megalitik. Pengaruh kebudayaan dongson ini juga berkembang menuju nusantara yang kemudian dikenal sebagai masa kebudayaan perunggu.
Asal mula kebudayaan ini berawal dari evolusi kebudayaan austronesia . Asal usulnya sendiri telah dicari dari barat dan bahkan ada yang berpendapat bahwa kelompok itu sampai di dongson melalui asia tengah yang tidak lain adalah bangsa yue-tche .namun pendapat ini sama halnya dengan pendapat yang mengaitkan dongson dengan kebudayaan halstatt yang ternyata masih diragukan kebenarannya.
Asumsi yang digunakan adalah bahwa benda-benda perunggu di yunnan dengan benda-benda yang ditemukan di dongson. Meski harus dibuktikan apakah benda-benda tersebut dibuat oleh kelompok-kelompok dari barat sehingga dari periode pembuatannya, dapat menentukan apakah benda tersebut adalah model untuk dongson atau hanyalah tiruan-tiruannya. Jika dugaan ini benar maka dapat menjelaskan penyebaran kebudayaan dongson sampai ke dataran tinggi burma.
Benda-benda arkeologi dari dongson sangat beraneka ragam, dari berbagai aliran. Terlihat dari artefak-artefak kehidupan sehari-hari ataupun peralatan bersifat ritual yang sangat rumit. Perunggu adalah bahan pilihan. Benda-benda seperti kapak dengan selongsong, ujung tombak, pisau belati, mata bajak, topangan berkaki tiga dengan bentuk yang indah. Kemudian gerabah dan jambangan rumah tangga, mata timbangan dan kepala pemintal benang, perhiasan-perhiasan termasuk gelang dari tulang dan kerang, manik-manik dari kaca dan lain-lain. Karya yang terkenal adalah nekara besar diantaranya nekara ngoc-lu yang kini disimpan di museum hanoi, serta patung-patung perunggu yang sering ditemukan di makam-makam pada tahapan terakhir masa dongson.
Contoh karya yang terkenal :





Nekara Ngoc Lu


Tombak Dong son       

Kebudayaan Dongson yang berkembang di situs Dongson, ternyata juga ditemukan karya-karya budaya yang diinspirasikan oleh kebudayaan tersebut di bagian selatan*Semenanjung Indochina*(Samrong,*Battambang*di*Kamboja) hingga Semenanjung Melayu (Sungai Tembeling di Pahang dan Klang di Selangor) hingga Nusantara (Indonesia).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar