TUGAS
SEJARAH
KEBUDAYAAN INDONESIA
Yovi
Ersariadi
NIM
17355/2010
SASTRA
INDONESIA
FAKULTAS
BAHASA dan SENI
UNIVERSITAS
NEGERI PADANG
2011
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan atas
segala rahmat dan hidayah Allah SWT, sehingga tugas ini dapat diselesaikan
dengan baik. Makalah ini membahas tentang zaman batu dan zaman logam beserta
hasil kebudayaannya dalam mata kuliah Sejarah Kebudayaan Indonesia.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pembimbing
sekaligus dosen kami dimata kuliah Sejarah Kebudayaan Indonesia yakni, Ibu Zubaidahs Kemudian, kepada seluruh
pihak yang terkait dalam penulisan tugas
ini.
Akhirnya, penulis menyadari bahwa
tugas ini masih terdapat banyak kesalahan, baik dalam penulisan maupun isi,
untuk itu penulis sangat mengharapakan kritik dan saran dari pembaca. Penulis
mengharapkan tugas ini dapat memberikan manfaat.
Padang,
28 November 2011
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
1.
LATAR BELAKANG
Waktu
(time) merupakan salah satu konsep dasar sejarah selain ruang (space), kegiatan
manusia (human activity). Perubahan (change) dan kesinambungan (continuity). Ia
merupakan unsur penting dari sejarah yaitu kejadian masa lalu. Dengan kata lain
waktu merupakan konstruksi gagasan yang digunakan untuk memberi makna dalam
kehidupan di dunia. Manusia tak dapat dilepaskan dari waktu karena perjalanan
hidup manusia sama dengan perjalanan waktu itu sendiri. Agar waktu dalam setiap peristiwa
atau kejadian dapat dipahami, maka sejarah membuat pembabakan waktu atau
periodisasi. Maksud periodisasi ini adalah agar babak waktu itu menjadi jelas
ciri-cirinya. Contohnya sejarah Eropa dapat dibagi ke dalam 3 periode yaitu
zaman klasik/kuno, zaman pertengahan dan zaman modern.
Periodisasi atau pembabakan waktu sejarah Indonesia menurut Dr. Kuntowijoyo
dalam bukunya yang berjudul Pengantar Ilmu Sejarah, dibagi menjadi 4 periode,
yaitu: zaman prasejarah, zaman kuno, zaman Islam, dan zaman modern.
Tetapi secara graris besar periodisasi sejarah dibagi
menjadi zaman prasejarah dan zaman sejarah sebagi berikut.
Dalam
mempelajari zaman prasejarah, di mana belum ditemukan bukti-bukti tertulis,
maka untuk mengetahui peristiwa atau kejadian pada masa tersebut harus bekerjasama dengan disiplin
ilmu yang lain antara lain: Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan
masa lampau melalui artefak. Dari hasil penelitian para ahli
arkeologi, maka tabir kehidupan masyarakat prasejarah Indonesia dapat
diketahui. Berdasarkan penggalian arkeologi maka prasejarah dapat dibagi
menjadi 2 zaman, yaitu: zaman batu dan zaman logam.
2. RUMUSAN MASALAH
Berdasakan
latar belakang diatas, maka rumusan masalah dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.
Apakah pengertian, ciri-ciri, dan hasil kebudayaan dari zaman batu dan zaman
logam?
2.
Bagaimana bentuk hasil kebudayaan
tersebut dan apa saja hasil kebudayaan dari zaman batu dan zaman logam?
BAB
II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Zaman Batu
Zaman Batu terjadi sebelum logam dikenal dan
alat-alat kebudayaan terutama dibuat dari batu di samping kayu dan tulang. Zaman
Batu adalah pada zaman itu ,manusia masih belum mengenal peralatan yg terbuat
dari bahan lain selain batu, mulai dari kampak ,ujung tombak,alat pemecah, atau
untuk membelah semuanya di buat atau berasal dari batu. Batu pada wkt di temukan suddh berbentuk seperti
kampak, ujung tombak ,atau di sengaja buat sedemikian rupa, sehingga berbentuk
seperti yg diinginkan, yaitu dengan
menggunakan batu juga sebagai alatnya. Karena, pada zaman itu tdk ada atau
belum ditemukan logam seperti zaman sekarang ini. Zaman batu ini dapat dibagi lagi atas:
1.
Zaman Batu
Tua (Palaeolithikum)
Palaeolithikum (Zaman batu tua) adalah zaman purba yang berlangsung antara
750.000 tahun sampai 15.000 tahun yang lalu, ditandai oleh pemakaian alat-alat
serpih; zaman batu tua. Disebut Zaman batu tua (palaeolitikum),
sebab alat-alat batu buatan manusia masih dikerjakan secara kasar, tidak diasah
atau dipolis.
Pada zaman ini, manusia hidup secara nomaden dalam kumpulan
kecil untuk mencari makanan. Mereka memburu binatang, menangkap ikan dan
mengambil hasil hutan sebagai makanan. Mereka belum bisa bercocok tanam. Mereka
menggunakan batu, kayu dan tulang binatang untuk membuat peralatan memburu.
Mereka membuat pakaian dari kulit binatang tangkapan mereka. Selain itu, mereka
telah pandai menggunakan api untuk memasak, memanaskan badan dan mengusir
binatang. Apabila dilihat dari sudut mata pencariannya periode ini disebut masa
berburu dan meramu makanan tingkat sederhana. Pendukung kebudayaan ini adalah
Homo Erectus yang berdiri.
Masa paling awal dari peradaban manusia ini ditandai dengan
ditemukannya fosil-fosil manusia purba yang dalam perhitungan ilmiah berusia
sekitar 1 juta tahun yang lalu. Contoh manusia purba saat itu adalah Phitecantropus
Erectus, yang dari bentuk ukuran tulang pahanya (femur) dapat dikategorikan
sebagai homo erectus atau manusia yang berjalan tegak. Dan alat
berburunya seperti kapak genggam, menunjukkan corak produksi manusia masa itu
masih dalam masa perburuan. Dalam masa ini manusia masih berpindah-pindah dari
satu tempat ke tempat lainnya dalam usahanya mendapatkan binatang buruan.
Beberapa peninggalan hasil kebudayaan dari zaman
paleolitikum, di antaranya adalah kapak genggam, kapak perimbas, monofacial,
alat-alat serpih, chopper, dan beberapa jenis kapak yang telah dikerjakan kedua
sisinya. Alat-alat ini tidak dapat digolongkan ke dalam kebudayaan batu teras
maupun golongan flake.
Alat-alat ini dikerjakan secara sederhana dan masih sangat
kasar. Bahkan, tidak jarang yang hanya berupa pecahan batu. Beberapa hasil
kebudayaan dari zaman paleolitikum, di antaranya adalah kapak genggam, kapak perimbas,
monofacial,alat-alat serpih, chopper, dan beberapa jenis kapak yang telah
dikerjakan kedua sisinya.
Contoh
alat-alat tsb adalah :
Kapak Genggam, banyak ditemukan di daerah Pacitan. Alat ini
biasanya disebut “Chopper” (alat penetak/pemotong)Dinamakan kapak genggam,
karena alat tersebut serupa dengan kapak, tetapi tidak bertangkai dan cara
mempergunakannya dengan cara menggenggam. Kapak genggam terkenal juga dengan
sebutan kapak perimbas, atau dalam ilmu prasejarah disebut dengan chopper
artinya alat penetak. Pembuatan kapak genggam dilakukan dengan cara memangkas
salah satu sisi batu sampai menajam dan sisi lainnya dibiarkan apa adanya
sebagai tempat menggenggam.
Cara menggunakan
chopper adalah jika kita akan memotong
kayu yang basah atau tali yang besar, sementara kita tidak memiliki alat
pemotong, maka kita dapat mengambil pecahan batu yang tajam. Kayu atau tali
yang akan dipotong diletakan pada benda yang keras dan bagian yang kan dipotong
dipukul dengan batu, maka kayu atau tali akan putus. Itulah, cara menggunakan
kapak penetak atau chopper
Alat-alat
dari tulang binatang atau tanduk rusa
Fungsi: -untuk
mengorek ubi dan keladi dari dalam tanah
- menangkap ikan
Flakes,
yaitu alat-alat kecil yang terbuat dari batu Chalcedon,yang dapat digunakan
untuk mengupas makanan. Fungsi: -untuk menguliti hewan buruan
-mengiris daging buruan
-memotong umbi-umbian, buah-buahan
-menangkap ikan
Alat-alat
ini tidak dapat digolongkan kedalam kebudayaan batu teras maupun golongan
flake. Alat-alat ini dikerjakan secara sederhana dan masih sangat kasar. Bahkan,
tidak jarang yang hanya berupa pecahan batu. Beberapa contoh hasil kebudayaan
dari zaman paleolitikum dapat dilihat pada gambar di bawah ini.. Contoh hasil
kebudayaan dari zaman paleolitikum adalah flake atau alat-alat serpih.
Hasil
kebudayaan ini banyak ditemukan di wilayah Indonesia, terutama di Sangiran
(Jawa Tengah) dan Cebbenge (Sulawesi Selatan). Flake memiliki fungsi yang
besar,terutama untuk mengelupas kulit umbi-umbian dan kulit hewan. Berdasarkan
tempat penemuannya, hasil-hasil kebudayaan

Zaman
batu tua di Indonesia dibagi menjadi dua, yaitu kebudayaan Ngandong dan
kebudayaang Pacitan.
a. Kebudayaan Pacitan
Pada tahun 1935, von Koenigswald
menemukan alat batu dan kapak genggam di daerah Pacitan.Kapak genggam itu
berbentuk kapak,tetapi tidak bertangkai. Kapak ini masih dikerjakan dengan
sangat kasar dan belum dihaluskan. Para ahli
menyebutkan bahwa kapak itu adalah kapak penetak. Selain di Pacitan alat-alat
banyak ditemukan di Progo dan Gombong (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat), dan
Lahat (Sumatera Utara)
b. Kebudayaan Ngandong
Para ahli berhasil menemukan
alat-alat dari tulang,kapak genggam, alat penusuk dari tanduk rusa dan ujung
tombak bergigi di daerah Ngandong dan Sidoarjo. Selain
itu, di dekat Sangiran ditemukan alat sangat kecil dari betuan yang amat indah.
Alat ini dinamakan Serbih Pilah, dan banyak ditemukan di Cabbenge (Sulawesi
Selatan) yang terbuat dari batu-batu indah seperti kalsedon. Kebudayaan Ngandong juga didukung oleh penemuan lukisan pada
dinding goa seperti lukisan tapak tangan berwarna merah dan babi hutan
ditemukan di Goa Leang PattaE (Sulawesi Selatan)
Hasil
kebudayaan cara hidup pendukung kebudayaan Pacitan
- kapak genggam
- kapak perimbas
- alat serpih
Kebudayaan Ngandong
- kapak genggam
- alat dari tulang dan
- tanduk rusa
- alat serpih(flake)
- berburu dan mengumpulkan makanan
(food gathering), berpindah-pindah(nomaden), mengenal api, memelihara hewan
(Phitecanthropus Erectus) hidup di padang rumput.
Manusia
pendukung kebudayaan ini adalah :
- Pacitan : Pithecanthropus dan
2.
Ngandong
: Homo Wajakensis dan Homo soloensis
Pada
Zaman Paleolitikum, di samping ditemukan hasil-hasil kebudayaan, juga ditemukan
beberapa peninggalan sebagaimana yang ditemukan di Sangiran dan Cebbenge,
seperti tengkorak (2 buah), fragmen kecil dari rahang bawah kanan, dan tulang
paha (6 buah) yang diperkirakan dari jenis manusia.
Selama
masa paleolitikum tengah, jenis manusia itu tidak banyak mengalami perubahan
secara fisik. Pithecanthropus Erectus adalah nenek moyang dari Manusia Solo
(Homo Soloensis). Hal yang agak aneh karena Pithecanthropus memiliki dahi yang
sangat sempit, busur alis mata yang tebal, otak yang kecil, rahang yang besar,
dan geraham yang kokoh.
2. Zaman Batu Besar (Mesolithikum)
Ciri kebudayaan Mesolithikum tidak
jauh berbeda dengan kebudayaan Palaeolithikum, tetapi pada masa Mesolithikum
manusia yang hidup pada zaman tersebut sudah ada yang menetap sehingga
kebudayaan Mesolithikum yang sangat menonjol dan sekaligus menjadi ciri dari
zaman ini yang disebut dengan kebudayaan Kjokkenmoddinger dan Abris
sous Roche.
Alat-alat
zaman Mesolithikum :
- Kapak genggam (peble)
- Kapak pendek (hache Courte)
- Pipisan (batu-batu penggiling)
- Kapak-kapak tersebut terbuat
dari batu kali yang dibelah.
Kjokkenmoddinger
adalah istilah yang berasal dari bahasa Denmark yaitu kjokken artinya dapur dan
modding artinya sampah jadi Kjokkenmoddinger arti sebenarnya adalah sampah
dapur. Dalam kenyataan Kjokkenmoddinger adalah timbunan atau tumpukan kulit
kerang dan siput yang mencapai ketinggian ± 7 meter dan sudah membatu/menjadi
fosil. Kjokkenmoddinger ditemukan disepanjang pantai timur Sumatera yakni
antara Langsa dan Medan. Dari bekas-bekas penemuan tersebut menunjukkan bahwa
manusia purba yang hidup pada zaman ini sudah menetap. Tahun 1925 Dr. P.V. Van Stein
Callenfels melakukan
penelitian di bukit kerang tersebut dan hasilnya banyak menemukan kapak genggam
yang ternyata berbeda dengan chopper (kapak genggam Palaeolithikum).
Kapak
genggam yang ditemukan di dalam bukit kerang tersebut dinamakan dengan pebble
atau kapak Sumatera (Sumatralith) sesuai dengan lokasi penemuannya yaitu di
pulau Sumatera.

Bentuk
pebble dapat dikatakan sudah agak sempurna dan buatannya agak halus. Bahan
untuk membuat kapak tersebut berasal dari batu kali yang dipecah-pecah. Selain
pebble yang ditemukan dalam Kjokkenmoddinger juga ditemukan sejenis kapak
tetapi bentuknya pendek (setengah lingkaran) yang disebut dengan Hache
Courte atau kapak pendek. Kapak ini cara penggunaannya dengan
menggenggam.
Di samping kapak-kapak yang ditemukan juga ditemukan pipisan
(batu-batu penggiling beserta landasannya). Batu pipisan selain dipergunakan
untuk menggiling makanan juga dipergunakan untuk menghaluskan cat merah, bahan
cat merah yang dihaluskan berasal dari tanah merah. Kecuali hasil-hasil
kebudayaan, di dalam Kjokkenmoddinger juga ditemukan fosil manusia yang berupa
tulang belulang, pecahan tengkorak dan gigi, meskipun tulang-tulang tersebut
tidak memberikan gambaran yang utuh/lengkap, tetapi dari hasil penelitian
memberikan kesimpulan bahwa manusia yang hidup pada masa Mesolithikum adalah
jenis Homo Sapiens.
Abris Sous Roche adalah goa-goa yang yang dijadikan tempat
tinggal manusia purba pada zaman Mesolithikum dan berfungsi sebagai tempat
perlindungan dari cuaca dan binatang buas. Penyelidikan pertama pada Abris Sous
Roche dilakukan oleh Dr. Van Stein Callenfels tahun 1928-1931 di goa Lawa dekat
Sampung Ponorogo Jawa Timur.
Salah satu peninggalan zaman mesolitik berupa Abris
sous roche.
Alat-alat Kebudayaan Mesolithikum yang ditemukan di gua-gua
yang disebut “Abris Sous Roche” Adapun alat-alat tersebut adalah :
- Flaces (alat serpih) , yaitu
alat-alat kecil yang terbuat dari batu dan berguna untuk mengupas makanan.
- Ujung mata panah,
- Batu penggilingan (pipisan),
- Kapak,
- Alat-alat dari tulang dan
tanduk rusa,
Alat-alat ini ditemukan di gua lawa Sampung Jawa Timur
(Istilahnya: Sampung Bone Culture = kebudayaan Sampung terbuat dari Tulang).
Di antara alat-alat kehidupan yang ditemukan ternyata yang
paling banyak adalah alat dari tulang sehingga oleh para arkeolog disebut
sebagai Sampung Bone Culture/kebudayaan tulang dari Sampung. Karena goa
di Sampung tidak ditemukan Pebble ataupun kapak pendek yang merupakan inti dari
kebudayaan Mesolithikum. Selain di Sampung, Abris Sous Roche juga ditemukan di
daerah Besuki dan Bojonegoro Jawa Timur. Penelitian terhadap goa di Besuki dan
Bojonegoro ini dilakukan oleh Van Heekeren.
Di Sulawesi Selatan juga banyak ditemukan Abris Sous Roche
terutama di daerah Lomoncong yaitu goa Leang Patae yang di dalamnya ditemukan
flakes, ujung mata panah yang sisi-sisinya bergerigi dan pebble. Di goa
tersebut didiami oleh suku Toala, sehingga oleh tokoh peneliti Fritz Sarasin
dan Paul Sarasin, suku Toala yang sampai sekarang masih ada dianggap sebagai
keturunan langsung penduduk Sulawesi Selatan zaman prasejarah. Untuk itu
kebudayaan Abris Sous Roche di Lomoncong disebut kebudayaan Toala. Kebudayaan
Toala tersebut merupakan kebudayaan Mesolithikum yang berlangsung sekitar tahun
3000 sampai 1000 SM.
Selain di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, Abris Sous Roche
juga ditemukan di daerah Timor dan Rote. Penelitian terhadap goa tersebut
dilakukan oleh Alfred Buhler yang di dalamnya ditemukan flakes dan ujung mata
panah yang terbuat dari batu indah.
Tiga
bagian penting Kebudayaan Mesolithikum,yaitu :
- Peble-Culture (alat kebudayaan
Kapak genggam) didapatkan di Kjokken Modinger
- Bone-Culture (alat kebudayaan
dari Tulang)
- Flakes Culture (kebudayaan alat
serpih) didapatkan di Abris sous Roche.
Dengan adanya keberadaan manusia
jenis Papua Melanosoide di Indonesia sebagai pendukung kebudayaan Mesolithikum,
maka para arkeolog melakukan penelitian terhadap penyebaran pebble dan kapak
pendek sampai ke daerah teluk Tonkin daerah asal bangsa Papua Melanosoide. Dari
hasil penyelidikan tersebut, maka ditemukan pusat pebble dan kapak pendek
berasal dari pegunungan Bacson dan daerah Hoabinh, di Asia Tenggara. Tetapi di
daerah tersebut tidak ditemukan flakes, sedangkan di dalam Abris Sous Roche
banyak ditemukan flakes bahkan di pulau Luzon (Filipina) juga ditemukan flakes.
Ada kemungkinan kebudayaan flakes berasal dari daratan Asia, masuk ke Indonesia
melalui Jepang, Formosa dan Philipina.
Berdasarkan
uraian materi di atas dapatlah disimpulkan:
a.
Kebudayaan Bacson - Hoabinh yang terdiri dari pebble, kapak pendek serta
alat-alat dari tulang masuk ke Indonesia melalui jalur barat.
b.
Kebudayaan flakes masuk ke Indonesia melalui jalur timur.
Untuk lebih memahami penyebaran kebudayaan Mesolithikum ke Indonesia,
maka simaklah gambar 7 peta penyebaran kebudayaan tersebut ke Indonesia.
Dapat disimpulkan, membandingkan penyebaran kebudayaan
Mesolithikum lebih banyak dibandingkan dengan penyebaran kebudayaan
Palaeolithikum. Dengan demikian masyarakat prasejarah selalu mengalami
perkembangan. Pergantian zaman dari Mesolithikum ke zaman Neolithikum
membuktikan bahwa kebudayaannya mengalami perkembangan dari tingkat sederhana
ke tingkat yang lebih kompleks.
3. Zaman Batu Muda (Neolithikum).
Hasil
kebudayaan yang terkenal pada zaman Neolithikum ini adalah jenis kapak persegi
dan kapak lonjong. Contoh alat tersebut :
- Kapak Persegi, misalnya
Beliung, Pacul dan Torah untuk mengerjakan kayu. Ditemukan di Sumatera,
Jawa, bali, Nusatenggara, Maluku, Sulawesi dan Kalimantan.
- Kapak Bahu, sama seperti kapak
persegi ,hanya di bagian yang diikatkan pada tangkainya diberi leher.
Hanya di temukan di Minahasa.
- Kapak Lonjong, banyak ditemukan
di Irian, Seram, Gorong, Tanimbar, Leti, Minahasa dan Serawak.
- Perhiasan ( gelang dan kalung
dari batu indah), ditemukan di jawa.
- Pakaian (dari kulit kayu).
- Tembikar (periuk belanga),
ditemukan di daerah Sumatera, Jawa, Melolo(Sumba).
Gambar.
Peninggalan zaman Neolithikum
Asal-usul penyebaran kapak persegi melalui suatu migrasi
bangsa Asia ke Indonesia. Nama kapak persegi diberikan oleh Van Heine Heldern
atas dasar penampang lintangnya yang berbentuk persegi panjang atau trapesium.
Penampang kapak persegi tersedia dalam berbagai ukuran, ada
yang besar dan kecil. Yang ukuran besar lazim disebut dengan beliung dan
fungsinya sebagai cangkul/pacul. Sedangkan yang ukuran kecil disebut dengan
Tarah/Tatah dan fungsinya sebagai alat pahat/alat untuk mengerjakan kayu
sebagaimana lazimnya pahat.
Bahan untuk membuat kapak tersebut selain dari batu biasa,
juga dibuat dari batu api/chalcedon. Kemungkinan besar kapak yang terbuat dari
calsedon hanya dipergunakan sebagai alat upacara keagamaan, azimat atau tanda
kebesaran.
Gambar.
Kapak Chalcedon.
Daerah asal kapak persegi adalah daratan Asia masuk ke
Indonesia melalui jalur barat dan daerah penyebarannya di Indonesia adalah
Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.
Walaupun kapak persegi berasal dari daratan Asia, tetapi di
Indonesia banyak ditemukan pabrik/tempat pembuatan kapak tersebut yaitu di
Lahat (Sumatera Selatan), Bogor, Sukabumi, Karawang, Tasikmalaya, Pacitan serta
lereng selatan gunung Ijen (Jawa Timur). Pada waktu yang hampir bersamaan
dengan penyebaran kapak persegi, di Indonesia Timur juga tersebar sejenis kapak
yang penampang melintangnya berbentuk lonjong sehingga disebut kapak lonjong.
Gambar.
Kapak Lonjong.
Dengan adanya gambar kapak lonjong seperti pada gambar
diatas, bagaimana menurut pendapat Anda bentuk keseluruhan dari kapak lonjong
tersebut?
Sebagian besar kapak lonjong dibuat dari batu kali, dan
warnanya kehitam-hitaman. Bentuk keseluruhan dari kapak tersebut adalah bulat
telur dengan ujungnya yang lancip menjadi tempat tangkainya, sedangkan ujung
lainnya diasah hingga tajam. Untuk itu bentuk keseluruhan permukaan kapak
lonjong sudah diasah halus.
Ukuran yang dimiliki kapak lonjong yang besar lazim disebut
dengan Walzenbeil dan yang kecil disebut dengan Kleinbeil, sedangkan fungsi
kapak lonjong sama dengan kapak persegi. Daerah penyebaran kapak lonjong adalah
Minahasa, Gerong, Seram, Leti, Tanimbar dan Irian. Dari Irian kapak lonjong
tersebar meluas sampai di Kepulauan Melanesia, sehingga para arkeolog
menyebutkan istilah lain dari kapak lonjong dengan sebutan Neolithikum Papua.
4.
Zaman Batu Besar (Megalithikum)
Megalithikum
atau kebudayaan batu besar sesungguhnya bukanlah mempunyai arti timbulnya
kembali zaman batu sesudah zaman logam,
tetapi kebudayaan megalithikum adalah kebudayaan yang menghasilkan
bangunan-bangunan dari batu besar yang muncul sejak zaman Neolithikum dan
berkembang pesat pada zaman logam.
Menurut
Von Heine Geldern, kebudayaan Megalithikum menyebar ke Indonesia melalui 2
gelombang yaitu :
1. Megalith Tua menyebar ke Indonesia pada zaman Neolithikum (2500-1500 SM)
dibawa oleh pendukung Kebudayaan Kapak Persegi (Proto Melayu). Contoh bangunan
Megalithikum adalah menhir, punden berundak-undak, Arca-arca Statis.
2. Megalith Muda menyebar ke Indonesia pada zaman perunggu (1000-100 SM) dibawa
oleh pendukung Kebudayaan Dongson (Deutro Melayu). Contoh bangunan megalithnya
adalah peti kubur batu, dolmen, waruga Sarkofagus dan arca-arca dinamis.
Dalam
uraian di atas, dibuktikan dengan adanya penemuan bangunan batu besar seperti
kuburan batu pada zaman prasejarah, banyak ditemukan manik-manik, alat-alat
perunggu dan besi. Hasil kebudayaan megalithikum biasanya tidak dikerjakan
secara halus, tetapi hanya diratakan secara kasar dan terutama hanya untuk
mendapatkan bentuk yang diperlukan.
Peninggalan
kebudayaan megalithikum ternyata masih dapat Anda lihat sampai sekarang, karena
pada beberapa suku-suku bangsa di Indonesia masih memanfaatkan kebudayaan
megalithikum tersebut. Contohnya seperti suku Nias. Contoh-contoh dari hasil
kebudayaan megalithikum yang akan disajikan pada uraian materi berikut ini.
1. Menhir
Menhir
adalah bangunan yang berupa tugu batu yang didirikan untuk upacara menghormati
roh nenek moyang, sehingga bentuk menhir ada yang berdiri tunggal dan ada yang
berkelompok serta ada pula yang dibuat bersama bangunan lain yaitu seperti
punden berundak-undak.
Lokasi
tempat ditemukannya menhir di Indonesia adalah Pasemah (Sumatera Selatan),
Sulawesi Tengah dan Kalimantan. Untuk mengetahui bentuk-bentuk menhir, maka
simaklah gambar-gambar berikut ini.

Gambar 18. Menhir
Bangunan
menhir yang dibuat oleh masyarakat prasejarah tidak berpedoman kepada satu
bentuk saja karena bangunan menhir ditujukan untuk penghormatan terhadap roh
nenek moyang. Selain menhir terdapat bangunan yang lain bentuknya, tetapi fungsinya
sama yaitu sebagai punden berundak-undak.
2. Punden Berundak-undak
Punden
berundak-undak adalah bangunan dari batu yang bertingkat-tingkat dan fungsinya
sebagai tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang yang telah meninggal. Bangunan tersebut dianggap sebagai bangunan
yang suci, dan lokasi tempat penemuannya adalah Lebak Sibedug/Banten Selatan
dan Lereng Bukit Hyang di Jawa Timur, sedangkan mengenai bentuk dari punden
berundak seperti gambar dibawah ini:

Gambar 19. Punden berundak-undak dan ilustrasinya.
Candi
Borobudur di Jawa Tengah adalah bangunan pemujaaan untuk umat Budha, dan
menurut Prof. Dr. Sutjipto Wirgosuparto, arsitektur bangunan Borobudur
merupakan tiruan atau kelanjutan dari punden berundak-undak.
Persamaan
antara Borobudur dengan Punden Berundak-undak adalah sama-sama sebagai bangunan
suci karena berfungsi untuk tempat pemujaan. Adapun perbedaannya candi
Borobudur merupakan bangunan suci umat Budha, dan bentuk bangunannya sempurna
dan indah karena penuh dengan relief dan ragam hias. Sedangkan Punden
Berundak-undak hanyalah bangunan biasa yang terbuat dari batu yang disusun
bertingkat-tingkat tanpa relief ataupun ragam hias dan sebagai tempat memuja
arwah nenek moyang yang sudah meninggal.
3. Dolmen
Dolmen
merupakan meja dari batu yang berfungsi sebagai tempat meletakkan saji-sajian
untuk pemujaan. Adakalanya di bawah dolmen dipakai untuk meletakkan mayat, agar
mayat tersebut tidak dapat dimakan oleh binatang buas maka kaki mejanya
diperbanyak sampai mayat tertutup rapat oleh batu.
Dengan
demikian dolmen yang berfungsi sebagai tempat menyimpan mayat disebut dengan
kuburan batu. Lokasi penemuan dolmen antara lain Cupari Kuningan/Jawa Barat,
Bondowoso/Jawa Timur, Merawan, Jember/Jatim, Pasemah/Sumatera, dan Nusa
Tenggara Timur.

Gambar 20. Dolmen
Bagi
masyarakat Jawa Timur, dolmen yang di bawahnya digunakan sebagai kuburan/tempat
menyimpan mayat lebih dikenal dengan sebutan Pandhusa atau makam Cina.
4. Sarkofagus
Sarkofagus
adalah keranda batu atau peti mayat yang terbuat dari batu. Bentuknya
menyerupai lesung dari batu utuh yang diberi tutup. Dari Sarkofagus yang
ditemukan umumnya di dalamnya terdapat mayat dan bekal kubur berupa periuk,
kapak persegi, perhiasan dan benda-benda dari perunggu serta besi.
Daerah
tempat ditemukannya sarkofagus adalah Bali. Menurut masyarakat Bali Sarkofagus
memiliki kekuatan magis/gaib. Berdasarkan pendapat para ahli bahwa sarkofagus
dikenal masyarakat Bali sejak zaman logam.


Gambar 21. Sarkofagus
5. Peti kubur
Peti
kubur adalah peti mayat yang terbuat dari batu-batu besar. Kubur batu dibuat
dari lempengan/papan batu yang disusun persegi empat berbentuk peti mayat yang
dilengkapi dengan alas dan bidang atasnya juga berasal dari papan batu.
Daerah
penemuan peti kubur adalah Cepari Kuningan, Cirebon (Jawa Barat), Wonosari
(Yogyakarta) dan Cepu (Jawa Timur). Di dalam kubur batu tersebut juga ditemukan
rangka manusia yang sudah rusak, alat-alat perunggu dan besi serta manik-manik.
Dari penjelasan tentang peti kubur, tentu Anda dapat mengetahui persamaan
antara peti kubur dengan sarkofagus, dimana keduanya merupakan tempat menyimpan
mayat yang disertai bekal kuburnya.

Gambar 22. Peti kubur
Perbedaaan
Peti Kubur Dengan Sarkofagus, bahwa
sarkofagus adalah keranda/peti mayat yang dibuat dari batu yang masih utuh dan
batu utuh tersebut dibentuk seperti lesung yang ada tutupnya. Sedangkan peti
kubur adalah peti mayat yang dibuat lempengan-lempengan batu/papan-papan batu
disusun membentuk kotak batu yang disertai dengan tutupnya,
6. Arca batu
Arca/patung-patung
dari batu yang berbentuk binatang atau manusia. Bentuk binatang yang
digambarkan adalah gajah, kerbau, harimau dan moyet. Sedangkan bentuk arca
manusia yang ditemukan bersifat dinamis. Maksudnya, wujudnya manusia dengan
penampilan yang dinamis seperti arca batu gajah.
Arca
batu gajah adalah patung besar dengan gambaran seseorang yang sedang menunggang
binatang yang diburu. Arca tersebut ditemukan di daerah Pasemah (Sumatera
Selatan). Daerah-daerah lain sebagai tempat penemuan arca batu antara lain
Lampung, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Gambar
23. Arca Batu Gajah dari Pasemah.
Pada
gambar Arca Batu Gajah dari Pasemah tersebut terdapat gambar nekara kecil yang
diikat di punggung. Dengan melihat gambar tersebut sebagai salah satu contoh
peninggalan Megalithikum, dapat memberikan kesimpulan hubungan antara
Kebudayaan Megalithikum dengan Kebudayaan Perunggu seperti yang terlihat pada
Arca Batu Gajah.
Penelitian
terhadap Kebudayaan Megalithikum di dataran tinggi Pasemah/Sumatera Selatan
dilakukan oleh Dr. Van Der Hoep dan Van Heine Geldern. Dari hasil penelitian
tersebut disimpulkan bahwa Kebudayaan Perunggu mempengaruhi Kebudayaan
Megalithikum atau dengan kata lain Kebudayaan Megalithikum merupakan cabang
dari Kebudayaan Dongson (Perunggu).
Kesimpulan
ini dibuat karena di Pasemah banyak ditemukan peninggalan budaya Megalith dan
budaya perunggu, seperti patung/arca prajurit dengan topi logam/helm yang
mengendarai kerbau atau gajah. Prajurit tersebut juga membawa nekara kecil pada
panggungnya.
2. Zaman
Logam
1.
ZAMAN LOGAM
Pada zaman
prasejarah, zaman dibedakan berdasarkan
alat-alatnya, yaitu, zaman batu dan logam. Zaman batu yang termuda adalah zaman
neolitikum dan zaman selanjutnya adalah zaman logam. Dengan dimulainya zaman
logam, bukan berati berakhir zaman batu, karena pada zaman logam masih terdapat
alat-alat dan perkakas batu. Nama zaman logam hanya untuk menyatakan bahwa saat
itu logam telah dikenal dan dipergunakan
orang untuk membuat alat-alat yang diperlukan.
Logam tidak
dapat dipukul-pukul atau dipecah seperti batu guna mendapat alat yang
dikehendaki. Logam harus dilebur dahulu dari bijinya untuk dapat dipergunakan.
Leburan logam itu yang kemudian dicetak. Tehnik pembuatan benda-benda dari
logam itu dinamakan <<a cire perdue>>, dan caranya adalah: benda
yang dikehendaki dan dibuat terlebih dahulu dari lilin, lengkap dengan
bagian-bagiannya. Kemudian model dari dari lilin itu ditutup dengan tanah. Dengan
jalan dipanaskan maka selubung tanah ini menjadi keras, sedangkan lilinnya
menjadi cair dan mengalir ke luar lubang yang telah disediakan di dalam
selubung itu. Jika telah habis lilinnya, dituangkan logam cair ke dalam
geronggang tempat lilin tadi. Dengan demikian logam itu menggantikan model
lilin tadi. Setelah dingin semuanya, selubung tanahnya dipecah, dan keluarlah
benda yang dikehendaki itu, bukan dari lilin melainkan logam.
Dari zaman-zaman
prasejara, dapat ketahui bahwa zaman logam dibagi lagi atas zaman tembaga,
perunggu dan besi. Asia Tenggara tidak mengenal zaman tembaga. Setelah
neolitikum langsung ke zaman perunggu dan
berlanjut ke zaman besi. Di Indonesia zaman logam pun sulit untuk dibago
ke dalam zaman perunggu atau besi. Bisa dikatakan bahwa zama logam di Indonesia
hanya zama perunggu, karena alat-alat perkakas besi tidak banyak bedanya dengan
alat-alat zaman perunggu.
2. Zaman
Perunggu
Zaman Perunggu adalah masalah dalam
perkembangan sebuah peradaban ketika kerajinan logam yang
paling maju telah mengembangkan teknik melebur tembaga dari hasil bumi dan membuat perunggu. Zaman Perunggu adalah bagian
dari sistem tiga zaman untuk masyarakat prasejarah dan terjadi setelah Zaman Neolitikum di beberapa wilayan di dunia. Di
sebagian besar Afrika subsahara, Zaman Neolitikum
langsung diikuti Zaman
Besi.
Zaman
perunggu berlangsung kurang lebih 500 tahun SM. Teknik pembuatannya adalah a
cire perdue (cetak hilang, hanya sesekali untuk mencetak). Contoh di Bali
ditemukan cetak nekara dari batu. Yang dicetak dengan cetakan batu adalah
nekara lilin, sedangkan nekara perunggunya dicetak dengan a cire perdue.
Di jaman sekarang orang membuat cetakan yang dapat dipakai berkali-kali disebut
bivalve (dua setangkup). Perunggu merupakan campuran timah putih dan tembaga.
Pada zaman
perunggu atau yang disebut juga dengan kebudayaan Dongson-Tonkin Cina (pusat
kebudayaan)ini manusia purba sudah dapat mencampur tembaga dengan timah dengan perbandingan 3 : 10 sehingga diperoleh
logam yang lebih keras.
Alat-alat perunggu pada zaman ini antara lain :
a. Kapak Corong (Kapak perunggu, termasuk golongan
alat perkakas) ditemukan di Sumatera Selatan, Jawa-Bali, Sulawesi, Kepulauan
Selayar, Irian
b. Nekara Perunggu (Moko) sejenis dandang yang
digunakan sebagai maskawin. Ditemukan di Sumatera, Jawa-Bali, Sumbawa, Roti,
Selayar, Leti
c. Benjana Perunggu ditemukan di Madura dan Sumatera.
d. Arca Perunggu ditemukan di Bang-kinang (Riau),
Lumajang (Jawa Timur) dan Bogor (Jawa Barat.
A.
Kapak Corong
Pada zaman
kebudayaan di Eropa, menghasilkan kapak-kapak tembaga yang masih menyerupai
kapak batu. Bentuk dan wujud dari kapak tembaga itu tidak berbeda dari dari
kapak batu, bahkan sering terdapat tanda bahwa sengaja tembaga itu menyerupai
bentuk batu.
Di
Indonesia, kapak logam yang ditemukan adalah kapak perunggu yang sudah
menyerupai bentuk tersendiri. Kapak ini biasanya dinamakan”kapak sepatu”,
maksudnya ialah kapak yang bagian atasnya berbentuk corong yang sembirnya
belah, sedangkan ke dalam corong itulah dimasukkan tangkai kayunya yang menyiku
kepada bidang kapak. Jadi, seolah-olah kapak disamakan dengan sepatu dan
tangkainya dengan kaki orang. Lebih tepat kapak ini dinamakan kapak corong.
Kapak corong
banyak ditemukan di Sumatera Selatan, Jawa, Bali, Sulawesi Tengah dan Selatan,
pulau Selayar dan Irian dekat danau Sentani. Berbagai jenis ditemukan, ada yang
kecil bersahaja, ada yang besar dan memakai hiasan; ada yang pendek lebar, ada
yang bulat, dan ada pula yang panjang satu sisi. Yang panjang satu sisi disebut
Cendrasa. Tidak semua kapak itu dipergunakan sebagai kapak. Misalnya, yang
kecil adalah tugal, sedangkan yang sangat indah dan juga cendrasa tidak dapat
digunakan sebagai perkakas dan hanya dipakai sebagai tanda kebesaran dan alat
upacara saja.
Cara
pembuatan kapak-kapak corong itu menunjukkan adanya tehnik a cire perdue. Di
dekat Bandung ditemukan cetakan dari tanah bakar untuk menuang kapak corong.
Berdasarkan penyelidikan, menyatakan bahwa yang dicetak bukan logamnya,
melainkan kapak yang dibuat dari lilin, ialah kapak yang menjadi kodel dari
kapak loamnya. Cetakan-cetakan itu membutikan bahwa kapak-kapak perunggu bukan
barang luar negeri saja, melainkan negeri Indonesia pun mengenalnya.
B.
Nekara
Nekara
adalah semacam berumbung dari perunggu yang berpinggang di bagian tengahnya dan
sisi atasnya tertutup. Nekara yang ditemukan di Indonesia hanya beberapa yang
utuh. Bahkan ada yang berupa pecahan-pecahan saja. Nekara itu ditemukan di
Sumatera, Jawa, Bali, pulau Sangean dekat Sumbawa, Roti, Leti, Selayar dan di
Kepulauan Kei. Di Alor banyak pula tedapat nekara, tetapi lebih kecil dan
ramping daripada yang ditemukan di lain-lain tempat. Nekara yang demikian itu
disebut moko. Dari hias-hiasannya dapat diketahui bahwa moko itu tidak semunya
berasal dari zaman perunggu. Ada diantaranya yang berasal darizaman majapahit,
bahkan ada yang dibuat dari zaman mutakhir abad 19, dengan memakai hiasan
lencana Inggris. Sampai kini moko sangat dihargai penduduk dan hanya disimpan
saja sebagai pusaka dan ada dipergunakan sebagai maskawin.
Di Bali
terdapat nekara yang besar sekali. Sampai kini yang terbesar dan masih utuh
tingginya 1,86 meter dan garis tengahnya 1, 60 meter. Nekara itu dianggap
sangat suci dan dipuja penduduk. Tidak hanya di Bali, di tempat lain nekara pun
dianggap barang suci. Penyelidikan
menunjukan bahwa nekara ini memang hanya dipergunakan waktu upacara-upacara
saja.
Hiasan-hiasan
itu sangat luar biasa pentingnya untuk sejarah kebudayaan, oleh karena dari
berbagai lukisan itu, kita dapat gambaran tentang kehidupan dan kebudayaan yang
ada pada saat itu. Dari hiasan-hiasan itu nampak dengan nyata, bahwa kebudayaan
perunggu Indonesia tidak berdiri sendiri, melainkan hanya merupakan bagian dari
lingkungan kebudayaan yang lebih luas yang meliputi seluruh Asia Tenggara.
Pada nekara
dari Sangean ada ganbar orang menunggang kuda beserta dengan pengiringnya,
keduanya memakai pakaian Tatar. Gambar-gambar orang Tatar itu memberi petunjuk akan adanya hubungan
dengan daerah Tiongkok. Pengaruh dari zaman itu masih nyata pada seni hias suku
bangsa Dayak dan Ngada(Flores).
Nekara dari
Sangean dan kepulauan Kei dihiasi gambar-gambar gajah, merak dan harimau,
semuanya bukan bintang dari bagian timur. Maka dapat disimpulkan bahwa
nekara-nekara itu dari lain tempat asalnya, ialah bagian dari barat Indonesia
dan benua Asia. Jelas bahwa persebaran nekara-nekara di Indonesia dari barat ke
timur jalannya.
Dapat
dikatakan bahwa tidak semua nekara berasal dari luar Indonesia. Ada pula buatan
dalam negeri. Di desa Manuaba(Bali)
ditemukan sebagian dari cetakan batu untuk membuat nekara, kini disimpan dan
dipuja di sebuah pura di desa tersebut. Batu cetakan itu diukir oleh
hiasan-hiasan yang biasa terdapat pada nekara, terutama sebagian dari
hiasan-hiasan nekara pajeng. Adanya batu cetakan nekara itu memberi kesan
bahwa, nekara itu pembuatannya dengan cara menuangkan cairan perunggu ke dalam
cetakan tadi. Akan tetapi banyak ahli berpendapat bahwa yang dicetak dengan
cetakan batu itu hanyalah nekara lilinnya saja, sedangkan nekara perunggu
dibuat dengan cara a cire perdue.
C.
Benda-benda
lainnya
Selain kapak
corong dan nekara, banyak benda-benda lain yang didapatkan dari zaman perunggu,
sebagian besar berupa perhiasan seperi: gelang, binggel (gelang kaki),
anting-anting, kalung dan cincin. Ada cincin yang sangat kecil. Yang tidak dapat
dimasukkan jari anak-anak, ini dapat digunakan sebagai alat penukaran uang.
Seni menuang
patung juga sudah ada. Dengan adanya beberapa buah patung, di antaranya
arca-arca orang yang sikapnya aneh dan satu arca lagi berupa kerbau. Ada juga
beberapa patung kecil kepala binatang dengan badan yang serupa pembuluh; pada
bagian atas badannya ditempel semacam cincin, sehingga benda itu dapat
digantung, ini dapat digantung sebagai liontin(perhiasan yang menggantung pada
kalung).
Dari daerah
tepi danau Kerinci dan dari pulau madura ditemukan bejana perunggu yang
bentuknya seperti periuk tetapi langsing dan gepeng. Kueduanya mempunyai hiasan
ukiran yang serupa dan sangat indah, berupa gambar-gambar geometri dan
pilin-pilin yang mirip huruf j. Di samping itu pada bejana dari Madura nampak
pula gambar-gambar merak dan rusa dalam kotak-kotak segitiga.
Selain
benda-benda perunggu ada lagi benda yang bukan dari perunggu tetapi ada pada
zaman perunggu asalnya, yaitu manik-manik dari kaca. Terdapat pada
kuburan-kuburan, jumlahnya sangat besar, sehingga memberi corak istimewa pada
zaman perunggu itu. Manik itu sebagai nekara kecil dan mata uang, dibawa kepada
orang yang telah meninggal sebagai bekal ke akhirat. Dapat dikatakan bahwa pada
zaman perunggu, orang telah pandai membuat dan menuang kaca. Hanya tehniknya
saja yang masih sederhana, karena hasilnya yang kebanyakan agak kasar dan
kadang-kadang masih bercampur pasir(pasir adalah bahan membuat kaca).
Manik-manik
itu ada yang besar dan ada yang kecil. Bentuknya pun bermacam-macam, begitu
pula warnanya:kuning, merah, biru, hijau, dan putih. Banyak pula yang berwarna
banyak, hasil pencampuran berbagai lapis kaca dengan warna yang berlainan.
Manik-manik itu dibuat dan dipakai sampai zaman sejarah. Sampai kini banyak
orang dan suku bangsa di Indonesia yang sangat menyukai dan menghargai barang
itu, sehingga menjadi barang perdagangan, misalnya di Kalimantan, Timor dan
Irian.
1.
Zaman
Besi
Dalam
arkeologi, Zaman Besi adalah suatu tahap perkembangan budaya manusia di mana
penggunaan besi untuk pembuatan alat dan senjata sangat dominan. Penggunaan
bahan baru ini, di dalam suatu masyarakat sering kali mencakup perubahan
praktik pertanian, kepercayaan agama, dan gaya seni, walaupun hal ini tidak
selalu terjadi.
Zaman
Besi adalah periode utama terakhir dalam sistem tiga zaman untuk
mengklasifikasi masyarakat prasejarah, yang didahului oleh Zaman Perunggu.
Waktu berlangsung dan konteks zaman ini berbeda, tergantung pada negara atau
wilayah geografis. Secara klasik, Zaman Besi dianggap dimulai pada Zaman
Kegelapan Yunani pada abad ke-12 SM dan Timur Tengah Kuno, abad ke-11 SM di
India, dan antara abad ke-8 SM (Eropa Tengah) dan abad ke-6 SM (Eropa Utara) di
Eropa. Zaman Besi dianggap berakhir dengan kebangkitan kebudayaan Hellenisme
dan Kekaisaran Romawi, atau Zaman Pertengahan Awal untuk kasus Eropa Utara.
Zaman
Besi berhubungan dengan suatu tahap di mana produksi besi adalah salah satu
bentuk paling rumit dari kerajinan logam. Kekerasan besi, titik lebur yang
tinggi, dan sumber bijih besi yang melimpah, membuat besi lebih dipilih dan
murah dari pada perunggu, yang memengaruhi dipilihnya besi sebagai logam yang
paling umum digunakan. Karena kerajinan besi diperkenalkan secara langsung ke
Amerika dan Australasia oleh kolonisasi Eropa, daerah-daerah tersebut tidak
pernah mengalami Zaman Besi.
Pada
zaman ini orang sudah dapat melebur besi dari bijinya untuk dituang menjadi
alat-alat yang diperlukan. Teknik peleburan besi lebih sulit dari teknik
peleburan tembaga maupun perunggu sebab melebur besi membutuhkan panas yang
sangat tinggi, yaitu ±3500 °C.
Pada
masa ini manusia telah dapat melebur besi untuk dituang menjadi alat-alat yang
dibutuhkan, pada masa ini di Indonesia tidak banyak ditemukan alat-alat yang
terbuat dari besi.
Alat-alat
yang ditemukan adalah :
· Mata kapak, yang dikaitkan pada tangkai
dari kayu, berfungsi untuk membelah kayu
· Mata Sabit, digunakan untuk menyabit
tumbuh-tumbuhan
· Mata pisau
· Mata pedang
· Cangkul, dll
Jenis-jenis
benda tersebut banyak ditemukan di Gunung Kidul(Yogyakarta), Bogor, Besuki dan
Punung (Jawa Timur)
2.
Zaman
Tembaga
Orang
menggunakan tembaga sebagai alat kebudayaan. Alat kebudayaan ini hanya dikenal
di beberapa bagian dunia saja. Di Asia Tenggara (termasuk Indonesia)
tidak dikenal istilah zaman tembaga.
3.
Kebudayaan
Dongson
Kebudayaan
Đông sơn adalah kebudayaan zaman perunggu yang berkembang di lembah sông hồng,vietnam.
Kebudayaan ini juga berkembang di asia tenggara, termasuk di nusantara dari
sekitar 1000 sm sampai 1 sm. Kebudayaan dongson mulai berkembang di indochina
pada masa peralihan dari periode mesolitik dan neolitik yang kemudian periode
megalitik. Pengaruh kebudayaan dongson ini juga berkembang menuju nusantara
yang kemudian dikenal sebagai masa kebudayaan perunggu.
Asal
mula kebudayaan ini berawal dari evolusi kebudayaan austronesia . Asal usulnya
sendiri telah dicari dari barat dan bahkan ada yang berpendapat bahwa kelompok
itu sampai di dongson melalui asia tengah yang tidak lain adalah bangsa
yue-tche .namun pendapat ini sama halnya dengan pendapat yang mengaitkan
dongson dengan kebudayaan halstatt yang ternyata masih diragukan kebenarannya.
Asumsi
yang digunakan adalah bahwa benda-benda perunggu di yunnan dengan benda-benda
yang ditemukan di dongson. Meski harus dibuktikan apakah benda-benda tersebut
dibuat oleh kelompok-kelompok dari barat sehingga dari periode pembuatannya,
dapat menentukan apakah benda tersebut adalah model untuk dongson atau hanyalah
tiruan-tiruannya. Jika dugaan ini benar maka dapat menjelaskan penyebaran
kebudayaan dongson sampai ke dataran tinggi burma.
Benda-benda
arkeologi dari dongson sangat beraneka ragam, dari berbagai aliran. Terlihat
dari artefak-artefak kehidupan sehari-hari ataupun peralatan bersifat ritual
yang sangat rumit. Perunggu adalah bahan pilihan. Benda-benda seperti kapak
dengan selongsong, ujung tombak, pisau belati, mata bajak, topangan berkaki
tiga dengan bentuk yang indah. Kemudian gerabah dan jambangan rumah tangga,
mata timbangan dan kepala pemintal benang, perhiasan-perhiasan termasuk gelang
dari tulang dan kerang, manik-manik dari kaca dan lain-lain. Karya yang
terkenal adalah nekara besar diantaranya nekara ngoc-lu yang kini disimpan di museum
hanoi, serta patung-patung perunggu yang sering ditemukan di makam-makam pada
tahapan terakhir masa dongson.
Contoh
karya yang terkenal
Nekara
Ngoc Lu
Tombak Dong son
Kebudayaan
Dongson yang berkembang di situs Dongson, ternyata juga ditemukan karya-karya
budaya yang diinspirasikan oleh kebudayaan tersebut di bagian
selatan*Semenanjung Indochina*(Samrong,*Battambang*di*Kamboja) hingga
Semenanjung Melayu (Sungai Tembeling di Pahang dan Klang di Selangor) hingga
Nusantara (Indonesia).
BAB
III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Kebudayaan dan masyarakat merupakan satu kesatuan yang tidak
dapat dipisahkan. Masyarakat dapat bertahan hidup karena menghasilkan
kebudayaan, kebudayaan itu ada karena dihasilkan oleh masyarakat. Dan melalui kebudayaanlah
segala corak kehidupan masyarakat dapat diketahui.
Dengan demikian dari hasil-hasil kebudayaan material dapat
dikaji dan dipelajari corak kehidupan masyarakat prasejarah Indonesia. Berdasarkan
hasil-hasil kebudayaan yang ditinggalkan oleh masyarakat di kepulauan Nusantara
sebelum mengenal tulisan, maka kehidupan masyarakat paling awal di Indonesia
oleh para ahli di bagi menjadi dua zaman. Dua zaman tersebut yaitu:
A. Zaman Batu
• Zaman batu tua ( Paleolithikum)
• Zaman batu madya (Mesolithikum)
• Zaman batu muda ( Neolithikum)
• Zaman batu besar ( Megalithikum)
B. Zaman Logam
• Zaman tembaga
• Zaman perunggu
• Zaman besi
Di
Asia Tenggara, termasuk Indonesia tidak mengenal zaman tembaga. Demikian juga
peninggalan zaman besi jumlahnya juga sangat sedikit dan waktunya bersamaan
dengan zaman perunggu sehingga di Indonesia hanya mengenal zaman perunggu saja
2.
SARAN
Peninggalan
sejarah dalam bentuk apapun, baik dalam bentuk artefak maupun kebudayaan
hendaknyalah dilestarikan dan dijaga jke asliannya.